Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

RESENSI BUKU (KENAPA UMAT ISLAM TERTINGGAL)

Tentang Buku           Sejarah mencatat, kaum Muslimin pernah dominan di sepenggal masa. Itulah saat peradaban manusia berkembang pesat., kedamaian menjadi panglima dan kebajikan mendunia. Kala itu, umat Islam membawa obor penerangan. Di tangan merekalah kunci kebaikan.           Semua hal indah itu kini tinggal kenangan. Lihatlah bagaimana nasib umat Islam sekarang. Betapa tertinggalnya dari umat lain. Alangkah terpuruk nasibnya jika dibandingkan dengan kemajuan bangsa Eropa, Amerika, Jepang ataupun Cina. Sudah sekian abad, umat Islam tidak kunjung bergerak meraih kemajuan positif yang dicita-citakan. Memang benar kata pujangga: “Ada dua hal yang waktunya tak terukur: sampai kapan tidurnya seseorang dan sampai kapan tertinggalnya sebuah umat”           Berpijak dari kenyataan ini, umat Islam perlu menghayati wejangan Syakib Arslan. ...

BERLINDUNG DIBALIK KATA ‘SIBUK’

Pergantian siang dan malam yang Allah berikan kepada hambanya adalah nikmat yang seharusnya dapat dimanfaatkan sebaik mungkin, sekaligus disyukuri sebagai sebuah ladang untuk terus berbuat yang terbaik. Dimulai dengan diri berbuat yang baik-baik, diharapkan darinya lahir perbuatan dan amal yang terbaik. Semua makhluk-Nya diberi jatah waktu yang sama, 24 jam tanpa dikurangi atau ditambah. Dari kumpulan detik yang sangat panjang itu, manusia pun terbagi-bagi sebab hitungan detik itu. Dari mereka ada yang Allah muliakan mereka dengan pelbagai kebaikan yang diperbuat, sebab mereka memuliakan hitungan detik itu. Selanjutnya, makhluk-Nya yang ia hinakan sebab mereka menghinakan hitungan detik yang telah diberikan kepada mereka. Imam Nawawi mengatakan, “Seorang penuntut ilmu harus memiliki jiwa rakus untuk belajar ilmu, senantiasa menekuninya di setiap waktu, baik malam maupun siang, ketika bermukim maupun bepergian. Ia tidak boleh menyia-nyiakan sedikit pun waktunya untuk selain ilm...

DALAM KESIA-SIAAN MASA MUDA

         Betapa kami sangat miris melihat apa yang menjadi pemandangan biasa di tengah-tengah masyarakat, dari ketidakperduliaannya pemuda Islam dengan apa yang diminta bangsa dan agamanya darinya. Hiduplah banyak dari mereka dalam gemerlap masa muda yang penuh foya-foya. Dihiasilah keseharian dengan kemewahan yang dipaksakan. Betapa tidak, mereka hanya memaksa orangtuanya ‘mendadaninya’ dengan kehidupan yang serba mewah. Betapa pemandangan yang sangat mengiris hati. Adakah sedikit saja mereka memikirkan bangsanya, agama?  “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S. An-Nisa’:09) Buya Hamka berpesan , “Hai pemuda Muslimin! Di dalam sudut dari hatimu, dibawah sanubari yang dalam sekali tersembunyilah suara kekua...

Mulia dalam Kesederhanaan

Adalah kekasihnya Allah yang berjalan di tengah teriknya matahari itu bersama kekasihnya juga, seorang hamba Allah yang taqwa dan sangat zuhud. Sang kekasih Allah itu pun tiba di tempat dimana Allah memberikan wahyu untuk menjalani fase kedua dari dakwahnya. Di kota ini, ia disambut dengan sangat baik oleh penduduk yang hidup dalam ukhuwah kasih sayang.  Sesampainya di kota itu, dengan para sahabatnya yang lain dan juga kaum Anshar, mereka bahu membahu membangun satu masjid dimana kelak akan menjadi pusat kehidupan penduduk kota ini. Sebuah bangunan yang sederhana namun sangatlah megah. Karena dibangun oleh cinta dan taqwa.           Selesai pembangunan masjid, kekasih Allah itu pun membangunkan sebuah bilik kecil tempat ia dan istri-istrinya berteduh dan beristirahat. Satu ruangan kecil bersahaja yang masih ada hingga hari ini menjadi tempat kekasih Allah itu berbaring bersama kedua sahabatnya, dua hamba Allah yang juga mewar...

Generasi Buta Sejarah

Sebagian manusia bertanya, mengapa harus belajar sejarah dan membacanya? mengapa harus melihat ke masa lampau dan meniliknya? Bukankah itu hanyalah catatan masa lampau yang benar atau salahnya tidak juga bisa dibuktikan? Untuk menjawab semua pertanyaan tadi, cukuplah dua ayat Al-Qur’an menjadi jawabannya. “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (Q.S. Al-An’am : 90) “Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (Q.S. Al-A’raf:176) Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah nya mengungkapkan faedah belajar sejarah yang merupakan mazhab keilmuan yang faedahnya sangat banyak dan sasarannya sangat mulia, karena dengan sejarah kita mampu mengenali akhlak umat-umat terdahulu, jejak hidup para nabi, dan tata kelola pemerintahan serta dasar kebijakan politik para raja, dengan tujuan agar kita mampu mengikuti peri kehidupan mereka hingga kita mampu mengambil faedah untuk kepentingan dunia dan agama. A...

Teramat Malu Kami Membacanya

Teramat Malu Kami Membacanya “ Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (Q.S. Al-An’am: 90) Ibnul Jauzy memberi nasehat, “Ketahuilah, membaca perjalanan dan sejarah teramat banyak faedahnya. Salah satunya, melihat kejadian yang mencengangkan, bernostalgia dengan waktu, mendengar khabar. Jiwa akan mendapatkan ketengan dengan mendengarnya.” Seorang bertanya kepada guru kami, ‘apakah obat dari kebosanan atau kemalasan dalam menuntut ilmu dan duduk dengan para ahli ilmu?’ dengan bijak beliau memberi nasehat dan tipsnya. Salah satunya beliau bertutur, ‘bacalah oleh kalian perjalanan para ulama yang memberikan seluruh jiwanya untuk ilmu. Dengan membacanya, jiwa akan kembali mendapat semangatnya.’ Lihatlah sejenak perjalanan Imam yang teramat hebat ini. Menempuh hebatnya sulit menggapai ilmu dengan keterbatasan sang ibu yang sudah mengasuhnya sendiri semenjak kecil. Disekolahkan pribadi ini. Disaat ia membutuhkan kertas me...

DIMANA KAMI DARI MEREKA?

Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Malik berdiri di tenagh teriknya panas matahari hanya untuk Menunggu gurunya Nafi’ keluar dan mengajarkannya satu Hadist Rasulullah. Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Syafi’I menulis di atas tulang-belulang Karena tidak sanggup membeli kertas. Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Ahmad berjalan kaki dari Baghdad menyusuri negeri-negeri asing Untuk berguru pada ahli hadist dan ulama-ulama dunia. Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Bukhari berjalan berpuluh-puluh kilo untuk mencari hadist dan mengumpulkannya. Kemudian ia tawakkalkan dengan memanjatkan pinta di shalat dua raka’at pada setiap Menuliskan hadist Rasulullah di ‘shahihnya’ Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Muslim an Nisaburi menghabiskan malamnya untuk mencari hadist yang ia tidak ketahui. Hingga ia lupa menuangkan air ke tenggorongkannya setelah ia menelan kurma di saat makan malamnya. Ya Rabb.. Dimana ka...

AMANAH MASA MUDA

Sudahi dengan semua hal yang sia-sia itu. Umur semakin berkurang dengan berjalannya waktu yang tiada berhenti. Detik yang dilalui juga kelak akan ditanya tentang masa yang sudah dihabiskan. Nikmat yang sudah dihabiskan untuk hal itu juga akan ditanya. Tiadakah melihat tanda-tanda kebesaran Allah pada mereka yang sudah diberi peringatan karena ulah dan perbuatan mereka. Janganlah kemudian menjadi penyesalan ketika tiada lagi yang bisa menjadi saksi dan penolong kecuali amal dan perbuatan. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-‘Ashr:1-3) Kemudian dengan ilmu yang didapat, sudahkah menjadi penuntun berjalan? Apakah ia hanya menjadi tumpukan pengetahuan yang ada di dalam kepala. Menjadi hal yang dibangga-banggakan di hadapan manusia? Benar kemudian sebuah hikmah ulama mengatakan, “siapa...

KESUNGGUHAN YANG HEBAT

Kesungguhan adalah harga mutlak dalam menuntut ilmu. Karena tanpanya, ilmu mustahil akan didapat. Perihal ini, Imam Nawawi berpesan, “Termasuk adab pelajar yang amat ditekankan ialah gemar dan tekun menuntut ilmu pada setiap waktu yang dapat dimanfaatkannya dan tidak puas dengan yang sedikit sedangkan dia mendapatkan yang banyak. Janganlah dia memaksa dirinya melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya supaya tidak jemu dan hilang apa yang diperolehnya. Ini tentu berbeda sesuai dengan perbedaan manusia dan keadaan mereka. Jika tiba di majlis guru dan tidak menemukannya, dia mesti menunggu dan tetap tinggal di pintunya. Janganlah meninggalkan tugasnya, kecuali jika dia takut gurunya tidak menyukai hal itu dengan mengetahui bahawa gurunya mengajar dalam waktu tertentu dan tidak mengajar ketika lainnya.” ( At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran, hal.68, dar al-minhaj) Dan diantara bukti kesungguhan adalah dengan banyak bersabar dalam menuntut ilmu. Hal ini telah disinggung ...