Langsung ke konten utama

AMANAH MASA MUDA



Sudahi dengan semua hal yang sia-sia itu. Umur semakin berkurang dengan berjalannya waktu yang tiada berhenti. Detik yang dilalui juga kelak akan ditanya tentang masa yang sudah dihabiskan. Nikmat yang sudah dihabiskan untuk hal itu juga akan ditanya. Tiadakah melihat tanda-tanda kebesaran Allah pada mereka yang sudah diberi peringatan karena ulah dan perbuatan mereka. Janganlah kemudian menjadi penyesalan ketika tiada lagi yang bisa menjadi saksi dan penolong kecuali amal dan perbuatan.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-‘Ashr:1-3)
Kemudian dengan ilmu yang didapat, sudahkah menjadi penuntun berjalan? Apakah ia hanya menjadi tumpukan pengetahuan yang ada di dalam kepala. Menjadi hal yang dibangga-banggakan di hadapan manusia? Benar kemudian sebuah hikmah ulama mengatakan, “siapa yang bertambah ilmunya namun tiada bertambah hidayahnya, tiadalah bertambah darinya kecuali semakin jauh dari Allah”
Amanah masa muda adalah amanah yang teramat berat. Betapa tidak. Di masa ini Allah berikan begitu banyak nikmat dan pemberiannya. Darinya kemudian dituntut menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Di masa ini Allah berikan nikmat sehat dan kuat yang tiada diberikan di masa sebelumnya.
Di masa ini juga Allah berikan pemberian akal yang bisa berfikir banyak. Di samping itu juga Ia berikan nikmat semangat yang besar. Akankah semua nikmat akan kita pergunakan pada hal-hal yang mendatangkan murka Allah.
Masa ini akan menjadi masa yang mulia, jika ia diarahkan pada pemanfaatan semua nikmat tadi untuk berjalan di jalan-Nya.  Dan akan jadi masa yang hina, jika dihabiskan semua nikmat itu untuk hal yang sia-sia. Inilah amanah masa muda yang Rasulullah sampaikan,
“Kaki anak adam tidaklah bergeser pada hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal; tentang masa mudanya untuk apa dia pergunakan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan kemana dia infakkan dan tentang apa yang dilakukannya dengan ilmunya.” (H.R Tirmidzi)
Maka menjadikan masa ini adalah masa yang penting, akan membawa satu semangat untuk terus mengisinya dengan amal kebaikan. Lebih dari itu, masa ini juga seharusnya diarahkan untuk lebih banyak memberi manfaat kepada umat. Diberikan lebih banyak untuk perjuangan agama dan bangsa. Perjuanan yang sudah selayaknya dipegang oleh generasi mudanya.

Madinah, 09 Dzul Qo’dah 1437 H / 13 Agustus 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Generasi Buta Sejarah

Sebagian manusia bertanya, mengapa harus belajar sejarah dan membacanya? mengapa harus melihat ke masa lampau dan meniliknya? Bukankah itu hanyalah catatan masa lampau yang benar atau salahnya tidak juga bisa dibuktikan? Untuk menjawab semua pertanyaan tadi, cukuplah dua ayat Al-Qur’an menjadi jawabannya. “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (Q.S. Al-An’am : 90) “Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (Q.S. Al-A’raf:176) Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah nya mengungkapkan faedah belajar sejarah yang merupakan mazhab keilmuan yang faedahnya sangat banyak dan sasarannya sangat mulia, karena dengan sejarah kita mampu mengenali akhlak umat-umat terdahulu, jejak hidup para nabi, dan tata kelola pemerintahan serta dasar kebijakan politik para raja, dengan tujuan agar kita mampu mengikuti peri kehidupan mereka hingga kita mampu mengambil faedah untuk kepentingan dunia dan agama. A...

KESUNGGUHAN YANG HEBAT

Kesungguhan adalah harga mutlak dalam menuntut ilmu. Karena tanpanya, ilmu mustahil akan didapat. Perihal ini, Imam Nawawi berpesan, “Termasuk adab pelajar yang amat ditekankan ialah gemar dan tekun menuntut ilmu pada setiap waktu yang dapat dimanfaatkannya dan tidak puas dengan yang sedikit sedangkan dia mendapatkan yang banyak. Janganlah dia memaksa dirinya melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya supaya tidak jemu dan hilang apa yang diperolehnya. Ini tentu berbeda sesuai dengan perbedaan manusia dan keadaan mereka. Jika tiba di majlis guru dan tidak menemukannya, dia mesti menunggu dan tetap tinggal di pintunya. Janganlah meninggalkan tugasnya, kecuali jika dia takut gurunya tidak menyukai hal itu dengan mengetahui bahawa gurunya mengajar dalam waktu tertentu dan tidak mengajar ketika lainnya.” ( At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran, hal.68, dar al-minhaj) Dan diantara bukti kesungguhan adalah dengan banyak bersabar dalam menuntut ilmu. Hal ini telah disinggung ...

DIMANA KAMI DARI MEREKA?

Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Malik berdiri di tenagh teriknya panas matahari hanya untuk Menunggu gurunya Nafi’ keluar dan mengajarkannya satu Hadist Rasulullah. Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Syafi’I menulis di atas tulang-belulang Karena tidak sanggup membeli kertas. Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Ahmad berjalan kaki dari Baghdad menyusuri negeri-negeri asing Untuk berguru pada ahli hadist dan ulama-ulama dunia. Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Bukhari berjalan berpuluh-puluh kilo untuk mencari hadist dan mengumpulkannya. Kemudian ia tawakkalkan dengan memanjatkan pinta di shalat dua raka’at pada setiap Menuliskan hadist Rasulullah di ‘shahihnya’ Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Muslim an Nisaburi menghabiskan malamnya untuk mencari hadist yang ia tidak ketahui. Hingga ia lupa menuangkan air ke tenggorongkannya setelah ia menelan kurma di saat makan malamnya. Ya Rabb.. Dimana ka...