Sebagian
manusia bertanya, mengapa harus belajar sejarah dan membacanya? mengapa harus
melihat ke masa lampau dan meniliknya? Bukankah itu hanyalah catatan masa
lampau yang benar atau salahnya tidak juga bisa dibuktikan?
Untuk
menjawab semua pertanyaan tadi, cukuplah dua ayat Al-Qur’an menjadi jawabannya.
“Mereka
itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah
petunjuk mereka.”
(Q.S. Al-An’am : 90)
“Maka
ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (Q.S. Al-A’raf:176)
Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah nya
mengungkapkan faedah belajar sejarah yang merupakan mazhab keilmuan yang
faedahnya sangat banyak dan sasarannya sangat mulia, karena dengan sejarah kita
mampu mengenali akhlak umat-umat terdahulu, jejak hidup para nabi, dan tata
kelola pemerintahan serta dasar kebijakan politik para raja, dengan tujuan agar
kita mampu mengikuti peri kehidupan mereka hingga kita mampu mengambil faedah
untuk kepentingan dunia dan agama.
Al-Qur’an yang Allah turunkan sebagai
bagian risalah penutup kenabian, telah memberikan kita banyak pelajaran dari
sejarah umat-umat terdahulu. Dari yang dimuliakan karena kebaikan yang ada,
atau juga kaum yang diazabkan karena kesemenaan terhadap yang menciptakan
mereka. Ada pula keadaan suatu kaum dan rajanya dan hidup dengan diutusnya para
nabi dan Rasul. Adapula diberitakan tentang keadaan suatu Negara dan keadaan
politik, ekonomi dan sosialnya. Semuanya untuk umat yang mau berfikir dan
mengambil pelajaran.
Sekarang kita kembalikan satu
pertanyaan untuk generasi muda agama ini, sudahkan mengenal sejarah agamanya??
Dimulai bagaimana mereka mengenal
teladannya, Nabi Muhamad Shallallahu’alaihi wasallam. Begitu banyak dari
generasi hari ini sangat tidak memberikan perhatian lebih kepada sirah dan
perjalanan sosok penutup kenabian ini. Padahal sedari dahulu, Allah memberikan
kabar untuk mencontoh dan melihatnya.
“Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S.Al-Ahzab:21)
Bukankan dalam ayat ini Allah
mengabarkan untuk melihat kepada pribadi seorang Rasulullah yang diutus 1400
tahun yang lalu di sebuah tanah yang tandus di negeri yang berkah itu? Adakah
generasi Islam telah mengenal pribadi agung ini dan mencotohnya? Sudahkan
mereka membaca sejarah dan sirah perjalanannya? Karena menganggapnya hal yang
sepele, pantaslah jika kita kehilangan teladan dan sosok, jadilah kita
mengidolakan manusia-manusia yang mengagukan dunia dan tak beragama. Ini
semuanya lahir dari jiwa yang mengganggap perjalanan hidup Rasulullah yang
mulia hanyalah relung masa lalu.
Membaca sejarah tidak hanya melihat
ke masa lalu dan berhenti disana. Ada banyak hal yang harus ‘ditarik’ ke masa
depan dan dijadikan sebagai pelajaran dan pembelajaran. Semuanya sekali lagi,
hanya untuk mereka yang berfikir seperti yang Allah kabarkan.
Berikut akan kami ceritakan sebuah
cerita hebat dari masa lampau, tentang sosok-sosok hebat yang patut dibaca
sejarahnya dan diambil sebagai teman berjalan di masa yang akan datang.
MADRASAH PERADABAN
Hari
itu berbondong-bondong wanita Anshar berjalan. Menuju kekasih mereka dan
kekasihnya Tuhan sembari berharap-harap cemas, memohon didapatlah ridha-Nya
Dengan menjadikan Rasullah senang dengan pemberian mereka yang seadanya. Namun, sosok itu masih saja tertunduk lesu,
dipandanginya dirinya dan semakin ia bersedih. Hari itu, tak ada yang dapat
diberikannya untuk agamanya. Tidaklah emas yang berharga, atau perak yang
disimpan di dalam rumah
Dengan
air mata yang bercucuran digendonglah sang anak kesayangan. Menghadap baginda
dengan tunduk pandangan. Berkata ia dengan lirih, “tidaklah saya wahai baginda,
memiliki harta dan kekayaan, hanyalah anak semata wayang yang menjadi pujaaan.
Jikalah berkenaan, kusampaikan ia padamu, menjadi khadim memberikan
pelayanan. Cukuplah itu jadi kebanggaan.”
Sayup-sayup
kekasih Allah melihat anak itu, diambillah ia dijadikan teman perjuangan
Dan tampaklah bahagia
di wajah baginda sebagai tanda turunnya ridha sang pemilik langit dan
penguasanya
Di
teriknya siang, ia keluar rumah menghadap panas yang tak kunjung selesai.
Dilangkahkanlah kaki dan keinginan, memungut sisa-sisa kertas surat-surat
kerajaan atau tulang-belulang hewan yang berserakan. Ia bersihkan dan rapikan,
agar baik dilihat dan dapat dipergunakan, untuk sang anak yang telah menjadi
yatim belajar menggores tinta ilmu pengetahuan. Tak ada harta yang dimiliki,
untuk berani mengantarkan sang anak dididik, diajari. Jadilah ia menghafal
setiap yang didengar Disimpan di dalam hati, untuk ditulis kemudian di atas
tulang-tulang dan disimpan.
Dinginnya
malam di tengah padang pasir yang menyiksa tidak jua membuatnya menyulut lelah
dan malas. Sebelum azan subuh menyambut, dipanaskanlah air Buat sang anak mandi
membersihkan badan dan memanaskan susu, diberikan diminum sang anak tercinta
agar kembali kuat berjalan, menyusuri jalan, mengumpulkan satu demi satu
kemuliaan Hadist Rasulullah, wahyu Tuhan yang disampaikan.Malam-malam wanita
mulia itu masih saja indah Diangkatnya tangan setinggi-tinggi ke atas mengadah, ke langit ia meminta, mendamba Allah berikan kembali
penglihatan pada sang cinta yang terlahir tanpa penglihatan yang bahagia.
Hingga kemudian, do’anya menembus langit mengetuk para malaikat dan seisinya.
Dan Allah berikanlah kembali penglihatan mulia untuk satu pekerjaan besar nan
mendunia,
Ahh…Indah
sekali mereka memintal amal. Adakah engkau tau sosok wanita itu, yang
memberikan anaknya sebagai pemberian kepada baginda Rasulullah, kekasihnya.
Pernahkah belajar darinya, wanita Anshar yang mulia Ibunda Anas ibn Malik, yang
dari rahimnya lahirlah sahabat mulia terbaik setelah kerasulan para anbiya’
Wanita
yang mengutip tulang belulang berserakan dan memungut surat-surat bekas
kerajaan. Adakah engkau mengenalnya? Namanya disebut oleh seisi dunia. Dan
penduduk langit membicarakannya. Adakah kau mengenal anak yatim, yang ia
besarkan dengan kedua tangannya? Ialah ibunda Imam Syafi’i semoga Allah memberi
ridha-Nya Pribadi yang debu di atas kakinya lebih mulia dari seluruh umat
manusia di zaman kita.
Atau
ibunda yang memanaskan air di dinginnya subuh, berdo’a kepada Rabb-nya
diberikan sabar dan teguh jiwa menemani sang anak berjalan berpuluh-puluh kilo
jauhnya untuk ia merasa manisnya wahyu Rasulullah. Disimpan di dalam dada dan
ditulisnya dalam lembaran. Hingga di kemudian hari, manusia menyebut-nyebut
nama anaknya itu..“Hadist ini di riwayatkan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya”
Merekalah
wanita yang seharusnya engkau memberi cemburu dan meletak iri. Merekalah
wanita, madrasah peradaban umat dan agama ini. Merekalah wanita mulia yang
darinya seharusnya umat belajar dan melihat. Merekalah wanita yang melihat
Islam dan ajaran yang diberi sebagai kemuliaan bukan kebebasan diri.
Itulah sedikit cerita dari relung
masa lalu yang awalnya kami susun dalam bait-bait puisi. Sebuah cerita teladan
untuk sebuah peradaban yang hebat. Merekalah wanita-wanita hebat yang membuai
sosok-sosok hebat dalam sejarah manusia. Adakah kita mau mengambil teladan??
Generasi yang mau melihat sejarahnya
tidak akan pernah malu menyematkan nama agamanya di dalam diri dan berbuat
seperti apa yang diperintahkan kepadanya. Karena ia tahu bahwa itulah kemuliaan
dan kemenangan, seperti apa yang telah didapatkan generasi sebelum mereka yang
menjadikan agamanya sebagai segalanya dalam hidup. Generasi yang buta, hanya
akan disibukkan oleh gemerlap masa kini yang banyak menipu dan menjebak, hingga
lupa untuk melihat apa yang telah Allah berikan untuk manusia-manusia yang
hidup dalam amal dan ilmu di masa lalu dan apa yang Allah berikan untuk kaum
yang tenggelam dalam mewahnya kesenagan dunia. Wallahu’alam bis shawab.

Komentar
Posting Komentar