Teramat Malu
Kami Membacanya
“ Mereka itulah orang-orang yang
telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (Q.S. Al-An’am: 90)
Ibnul Jauzy memberi nasehat, “Ketahuilah, membaca perjalanan dan
sejarah teramat banyak faedahnya. Salah satunya, melihat kejadian yang
mencengangkan, bernostalgia dengan waktu, mendengar khabar. Jiwa akan
mendapatkan ketengan dengan mendengarnya.”
Seorang bertanya kepada guru kami, ‘apakah obat dari kebosanan atau
kemalasan dalam menuntut ilmu dan duduk dengan para ahli ilmu?’ dengan bijak
beliau memberi nasehat dan tipsnya. Salah satunya beliau bertutur, ‘bacalah
oleh kalian perjalanan para ulama yang memberikan seluruh jiwanya untuk ilmu.
Dengan membacanya, jiwa akan kembali mendapat semangatnya.’
Lihatlah sejenak perjalanan Imam yang teramat hebat ini. Menempuh
hebatnya sulit menggapai ilmu dengan keterbatasan sang ibu yang sudah
mengasuhnya sendiri semenjak kecil. Disekolahkan pribadi ini. Disaat ia
membutuhkan kertas menulis dan tidak didapatnya, tulang tulang kemudian jadi
lembarannya. Asyik betul dia mencapai ilmu itu. Dari itu, sang ibu rela mengais
kertas bekas surat-surat kerajaan di kantor pos.
Karena ketiadasanggupan membayar upah gurunya, jadilah ia hanya
duduk mendengarkannya dan menghafal apa yang disampaikan sang guru. Beberapa
tahun berjalan, ia sudah duduk dengan beratus murid-murid mengelilinginya untuk
menegak dahaga ilmu dari sumurnya. Mereka datang dari segala penjuru negeri
untuk mendengarkan kefasihannya, kuatnya hujjah dan dalamnya pemahaman. Dialah
yang dahulu tidak punya kertas untuk menulis. Dialah pula yang sedari dulu
karena kefakiran yang ada tidak sanggup membayar sang guru. Adakah kita
mengenalnya?
Adakah untukmu yang berbangga-bangga dengan ilmu, dari mereka dan
perjalanan luarbiasa mereka? Mereka yang rela menempuh sulitnya demi meneguk
manisnya tetesan hadist Rasulullah? Dimana kita dari Imam Ahmad yang telah
bersafar diumurnya delapanbelas tahun, keluar dari negaranya dan berkeliling
Negara untuk menulis hadist Rasulullah.? Sosok yang tak berpantang kakinya yang
sudah hampir berhenti berjalan karena tubuh yang sudah sempoyongan. Pribadi
yang jika tak menemukan kendaraan mengantarkannya menulis, dipasangnya kaki
sekuat kedelai berjalan. Iya, berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer jauhnya.
Dimana kita dari satu sosok zuhud ini? Masih mengeluh karena hanya hujan yang
turun rintik?
Mari membaca kisah mereka. Hingga kemudian satu sadar dan
lanjutannya hadir mengingatkan. Bahwa hidup dan perjalanan ini teramat mudah.
Malu lah untuk membaca dirimu setelah membaca perjalanan mereka. Kakimu yang
masih kuat berjalan, dibanggakan untuk bersenang-senang dalam hal yang sia-sia.
Membaca kisah-kisah mereka, menyingkap jiwa yang teramat ‘manja’ untuk tidak menempuh
sulitnya mendapat ilmu. Kemuliaan yang memang harus ditempuh dengan sulitnya
jalan dan banyak susahnya. Dengan indah beliau memberi pelajaran dari orang-orang
hebat itu. Dari abulbashar sebagai sosok pertama yang memulai belajar pada
malaikat, kemudian Musa yang meminta pengajaran pada Khidr dan seterusnya.
Bacalah! Betapa indah kisah mereka untuk dikisahkan dan diambil
pelajarannya. Semoga tidak malu untuk terus membuka halaman per halaman buku
ini.
Ibnul Jauzi dalam bukunya Shaidul
Khatir, “Perkala paling utama adalah mencari tambahan ilmu. Sebab, orang
yang membatasi ilmunya dan merasa cukup dengannya pasti akan keras kepala.
Perasaan superiornya akan menghalanginya dari mendapatkan manfaat. Dengan
belajar, seseorang dapat mengetahui kesalahannya.”
Mari
kemudian kita membaca kisah mereka,
Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyah dalam kitab Raudhah al-Muhibbin
menuturkan bahwa gurunya, Ibnu Taimiyyah
pernah bercerita, “Saya tertimpa sakit, maka dokter berkata padaku,
‘Sesungguhnya aktivitasmu dalam menelaah dan membicarakan ilmu memperparah
penyakitmu.’ Saya pun berkata kepadanya, ‘Saya tidak sabar melakukan hal itu.
Saya akan menerangkan kepadamu dengan ilmumu. Bukankah jika jiwa itu bergembira
dan bahagia, maka tabiatnya akan kuat sehingga mampu menolak penyakit?’ Dokter
itu menjawab ‘Ya’. Kemudian saya berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya jiwaku
bahagia dengan ilmu sehingga menjadikannya kuat dan tentram.’ Maka dokter itu
berkata, ‘Jika demikian, maka ini di luar pengobatan kami’.”
Membaca kisah mereka tidak hanya
sekedar mengingat masa lalu. Menela’ah sirah mereka adalah mengambil ibrah di
masa lampau untuk kembali diamalkan di masa ini dan masa esok. Wallahu’alam
bis shawab
_Mohd.Ahmad_

Komentar
Posting Komentar