Kesungguhan adalah harga mutlak dalam menuntut ilmu. Karena
tanpanya, ilmu mustahil akan didapat. Perihal ini, Imam Nawawi berpesan,
“Termasuk adab pelajar yang amat ditekankan ialah gemar dan tekun menuntut ilmu
pada setiap waktu yang dapat dimanfaatkannya dan tidak puas dengan yang sedikit
sedangkan dia mendapatkan yang banyak. Janganlah dia memaksa dirinya melakukan
sesuatu yang tidak mampu dilakukannya supaya tidak jemu dan hilang apa yang
diperolehnya. Ini tentu berbeda sesuai dengan perbedaan manusia dan keadaan
mereka.
Jika tiba di majlis guru dan tidak menemukannya, dia mesti menunggu
dan tetap tinggal di pintunya. Janganlah meninggalkan tugasnya, kecuali jika
dia takut gurunya tidak menyukai hal itu dengan mengetahui bahawa gurunya
mengajar dalam waktu tertentu dan tidak mengajar ketika lainnya.” (At-Tibyaan
fii Aadaabi Hamalatil Quran, hal.68, dar al-minhaj)
Dan diantara bukti kesungguhan adalah dengan banyak bersabar dalam
menuntut ilmu. Hal ini telah disinggung oleh Imam Nawawi dalam kitabnya At-Tibyaan
fii Aadaabi Hamalatil Quran
“Bersabar lebih utama sebagaimana dilakukan oleh Ibnu Abbas radiyallahu
‘anhu dan lainnya. Hendaklah dia mendorong dirinya dengan
bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu ketika lapang, dalam keadaan giat dan
kuat, cerdas pikiran dan sedikit kesibukkan sebelum nampak tanda-tanda
ketidak-mampuan dan sebelum mencapai kedudukan yang tinggi.”
“Mereka berkata: “Barangsiapa tidak sabar menghadapi kehinaan
ketika belajar, maka sepanjang hidupnya tetap dalam kebodohan. Dan barangsiapa
yang sabar menghadapinya, maka dia akan mendapat kemuliaan di dunia dan
akhirat.” Senada dengan nasihat itu ialah atsar yang masyhur dari
sahabat Abdullah Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu: “Aku menjadi hina sebagai
pelajar dan menjadi mulia sebagai guru.”
Kemudian beliau mengutip sebuah perkataan dari Amirul Mukminin Umar
Ibn Al-Khattab ra: “Tuntutlah ilmu sebelum kamu menjadi pemimpin. Yakni
berijtihadlah dengan segenap kemampuanmu ketika kamu menjadi pengikut sebelum
menjadi pemimpin yang diakui, kamu enggan belajar lantaran kedudukanmu yang
tinggi dan pekerjaanmu yang banyak. Inilah makna perkataan Imam Asy-Syafi’i
r.a:“Tuntutlah ilmu sebelum engkau menjadi pemimpin. Jika engkau sudah menjadi
pemimpin, maka tiada lagi waktu untuk menuntut ilmu.” (At-Tibyaan fii
Aadaabi Hamalatil Quran, hal.68, dar al-minhaj)
Dan dalam diri sosok Imam Nawawi, hal ini tidak lagi diragukan
lagi. Teladannya patut kembali diceritakan, agar menjadi semangat untuk
generasi hari ini. Ialah penuntut ilmu sejati itu. Imam Sakhawi
menyebutkan, “Ia telah memberikan contoh dan
teladan yang mengagumkan. Imam Nawawi Rahimahullah berkata,’Saya
hidup selama dua tahun dan tidak meletakkan lambungku ke tanah’. Imam
ad-Dzahabi menuturkan, “Ia telah membuat permisalan bagaimana seharusnya
menuntut ilmu siang dan malam dan meninggalkan tidur kecuali dalam kelelahan.
Menentukan waktu-waktunya dengan melazimkan belajar, menulis dan membaca serta
mendatangi guru-guru.”

Komentar
Posting Komentar