Langsung ke konten utama

Mulia dalam Kesederhanaan

Adalah kekasihnya Allah yang berjalan di tengah teriknya matahari itu bersama kekasihnya juga, seorang hamba Allah yang taqwa dan sangat zuhud. Sang kekasih Allah itu pun tiba di tempat dimana Allah memberikan wahyu untuk menjalani fase kedua dari dakwahnya. Di kota ini, ia disambut dengan sangat baik oleh penduduk yang hidup dalam ukhuwah kasih sayang. 

Sesampainya di kota itu, dengan para sahabatnya yang lain dan juga kaum Anshar, mereka bahu membahu membangun satu masjid dimana kelak akan menjadi pusat kehidupan penduduk kota ini. Sebuah bangunan yang sederhana namun sangatlah megah. Karena dibangun oleh cinta dan taqwa.

          Selesai pembangunan masjid, kekasih Allah itu pun membangunkan sebuah bilik kecil tempat ia dan istri-istrinya berteduh dan beristirahat. Satu ruangan kecil bersahaja yang masih ada hingga hari ini menjadi tempat kekasih Allah itu berbaring bersama kedua sahabatnya, dua hamba Allah yang juga mewarisi keteduhan teladannya, kekasih Allah itu. Siapapun yang pernah langsung melihat tiga pembaringan manusia terbaik itu, akan melihat dengan air mata yang terus mengucur. Betapa tidak, itulah dahulu rumah berteduh seorang hamba Allah terbaik, sebuah bilik dari kekasihnya Allah. Ialah kekasih Allah dan teladan umat ini, Nabi Muhammad sallallahu’alaihi wa sallam. Tak sanggup kemudian kami melihatnya untuk yang kedua kalinya. Hingga kita perkenankan, sahabat kekasih Allah ini yang akan menggambarkan ruangan penuh sahaja itu,

Ia berkisah, saat itu beliau di atas tikar yang tidak dilapisi sesuatu apa pun. Di bawah kepalanya hanya terdapat bantal yang terbuat dari kulit yang berisikan sabut. Pada kedua kakinya terdapat dedaunan yang dituangkan, sementara di kepalanya terdapat kulit yang telah disamak. Aku melihat bekas tikar itu di sebelah kiri badannya dan aku pun menangis. Beliau bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?” aku menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Kisra dan Kaisar keduanya berada dalam kesenangan, sementara Anda wahai Rasulullah..” akhirnya beliau bersabda : “Tidakkah kamu ridha apabila dunia ini menjadi milik mereka, sedangkan akhirat untuk kita?” (H.R Bukhari)

          Contoh itulah yang kemudian menjadi teladan bagi sahabatnya itu, Umar ibn Khattab, khalifah kedua setelah Rasulullah. Dari Anas radiyallahu’anhu berkata, “Saya melihat diantara diantara kedua pundak Umar radiyallahu’anhu empat tambalan di bajunya”

Adakah air mata yang tidak mengalir setelah mendengar kekasih Allah hidup dalam keadaan seperti ini? Apakah yang kemudian membuatnya hidup dalam semua kekurangan ini? Semuanya tidak lain adalah rindunya akan kehidupan yang lebih utama dari semua kesenangan itu.

“ Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?". Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah.” (Q.S. al-Imran : 15)

Selalu banyak cara iblis menjatuhkan manusia dalam kehinaan dan kehancuran. Diantara jalan-jalan itu adalah hidup yang berlebihan dalam kesenangan. Cinta dunia dan kesenangannya membuat banyak manusia lupa akan akhir dari kehidupannya. Padahal, dalam banyak ayat Allah mengingatkan hal ini untuk kita berhati-hati memaknai sebuah nikmat dan pemberian-Nya.

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Q.S. al-Kahfi: 46)

Adalah teladan itu, Rasulullah, telah memberikan contoh terbaik mengarungi kehidupan dengan memaknai pemberian Allah sebagai sebuah hal yang harus disyukuri dengan sebuah kesederhanaan. Karena mulia itu ada pada sebuah kesederhanaan yang tidak kurang hingga membuat tangan mengadah dan meminta belas kasih. Sederhana adalah merasa cukup dari yang diberi dengan tangan yang memberi dan mengasihi. Wallahu’alam bis shawab

Komentar