Adalah
kekasihnya Allah yang berjalan di tengah teriknya matahari itu bersama
kekasihnya juga, seorang hamba Allah yang taqwa dan sangat zuhud. Sang kekasih
Allah itu pun tiba di tempat dimana Allah memberikan wahyu untuk menjalani fase
kedua dari dakwahnya. Di kota ini, ia disambut dengan sangat baik oleh penduduk
yang hidup dalam ukhuwah kasih sayang.
Sesampainya di kota itu, dengan para
sahabatnya yang lain dan juga kaum Anshar, mereka bahu membahu membangun satu
masjid dimana kelak akan menjadi pusat kehidupan penduduk kota ini. Sebuah
bangunan yang sederhana namun sangatlah megah. Karena dibangun oleh cinta dan
taqwa.
Selesai pembangunan masjid, kekasih
Allah itu pun membangunkan sebuah bilik kecil tempat ia dan istri-istrinya
berteduh dan beristirahat. Satu ruangan kecil bersahaja yang masih ada hingga
hari ini menjadi tempat kekasih Allah itu berbaring bersama kedua sahabatnya,
dua hamba Allah yang juga mewarisi keteduhan teladannya, kekasih Allah itu. Siapapun
yang pernah langsung melihat tiga pembaringan manusia terbaik itu, akan melihat
dengan air mata yang terus mengucur. Betapa tidak, itulah dahulu rumah berteduh
seorang hamba Allah terbaik, sebuah bilik dari kekasihnya Allah. Ialah kekasih
Allah dan teladan umat ini, Nabi Muhammad sallallahu’alaihi wa sallam. Tak
sanggup kemudian kami melihatnya untuk yang kedua kalinya. Hingga kita
perkenankan, sahabat kekasih Allah ini yang akan menggambarkan ruangan penuh
sahaja itu,
Ia berkisah, saat itu beliau di atas
tikar yang tidak dilapisi sesuatu apa pun. Di bawah kepalanya hanya terdapat
bantal yang terbuat dari kulit yang berisikan sabut. Pada kedua kakinya
terdapat dedaunan yang dituangkan, sementara di kepalanya terdapat kulit yang
telah disamak. Aku melihat bekas tikar itu di sebelah kiri badannya dan aku pun
menangis. Beliau bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?” aku menjawab,
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Kisra dan Kaisar keduanya berada dalam
kesenangan, sementara Anda wahai Rasulullah..” akhirnya beliau bersabda :
“Tidakkah kamu ridha apabila dunia ini menjadi milik mereka, sedangkan akhirat
untuk kita?” (H.R Bukhari)
Contoh itulah yang kemudian menjadi
teladan bagi sahabatnya itu, Umar ibn Khattab, khalifah kedua setelah
Rasulullah. Dari Anas radiyallahu’anhu berkata, “Saya melihat diantara
diantara kedua pundak Umar radiyallahu’anhu empat tambalan di bajunya”
Adakah air mata yang tidak mengalir
setelah mendengar kekasih Allah hidup dalam keadaan seperti ini? Apakah yang
kemudian membuatnya hidup dalam semua kekurangan ini? Semuanya tidak lain
adalah rindunya akan kehidupan yang lebih utama dari semua kesenangan itu.
“
Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang
demikian itu?". Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi
Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal
didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta
keridhaan Allah.” (Q.S. al-Imran : 15)
Selalu banyak cara iblis menjatuhkan
manusia dalam kehinaan dan kehancuran. Diantara jalan-jalan itu adalah hidup
yang berlebihan dalam kesenangan. Cinta dunia dan kesenangannya membuat banyak
manusia lupa akan akhir dari kehidupannya. Padahal, dalam banyak ayat Allah
mengingatkan hal ini untuk kita berhati-hati memaknai sebuah nikmat dan
pemberian-Nya.
“Harta
dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal
lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk
menjadi harapan.” (Q.S. al-Kahfi: 46)
Adalah teladan itu, Rasulullah, telah
memberikan contoh terbaik mengarungi kehidupan dengan memaknai pemberian Allah
sebagai sebuah hal yang harus disyukuri dengan sebuah kesederhanaan. Karena
mulia itu ada pada sebuah kesederhanaan yang tidak kurang hingga membuat tangan
mengadah dan meminta belas kasih. Sederhana adalah merasa cukup dari yang
diberi dengan tangan yang memberi dan mengasihi. Wallahu’alam bis shawab

Komentar
Posting Komentar