Langsung ke konten utama

RESENSI BUKU (KENAPA UMAT ISLAM TERTINGGAL)


Tentang Buku

          Sejarah mencatat, kaum Muslimin pernah dominan di sepenggal masa. Itulah saat peradaban manusia berkembang pesat., kedamaian menjadi panglima dan kebajikan mendunia. Kala itu, umat Islam membawa obor penerangan. Di tangan merekalah kunci kebaikan.

          Semua hal indah itu kini tinggal kenangan. Lihatlah bagaimana nasib umat Islam sekarang. Betapa tertinggalnya dari umat lain. Alangkah terpuruk nasibnya jika dibandingkan dengan kemajuan bangsa Eropa, Amerika, Jepang ataupun Cina. Sudah sekian abad, umat Islam tidak kunjung bergerak meraih kemajuan positif yang dicita-citakan. Memang benar kata pujangga:

“Ada dua hal yang waktunya tak terukur: sampai kapan tidurnya seseorang dan sampai kapan tertinggalnya sebuah umat”

          Berpijak dari kenyataan ini, umat Islam perlu menghayati wejangan Syakib Arslan. Penjelasannya tentang factor ketertinggalan umat Islam dan kemajuan umat lain dalam buku ini dapat menerangi jalan setiap Muslim untuk bangkit dari keterlenaan, lepas dari keterpurukan dan merebutkan kembali peradaban. Wallahu’alam

MUQADDIMAH

Pada bulan Rabiul Akhir 1348 H (Tahun 1929), Syaikh Muhammad Basyuni Imran dari Jawa menulis sepucuk surat kepada Sayydi Rasyid Ridha, pengasuh Majalah Al-Manar. Surat itu berisi penghargaan dan penghormatan Syaikh Muhammad Basyuni Imran kepada Syakib Arslan atas pengabdiannya bagi Islam dan kaum Muslimin. Melalui surat itu pula Syaikh Muhammad Basyuni Imran mengusulkan kepada Syakib Arslan ahar berkenan menjelaskan kepada para pembaca Al-Manar factor-faktor penyebab kemajuan masyarakat Eropa, Amerika dan Jepang. Pun, menjelaskan cara-cara agar Islam dapat mengejar dan menyaingi mereka di arena peradaban sambil tetap menjaga agama Islam yang lurus.

          Mendapat surat ini, Sayyid Rashid Ridha mengalihkannya kepada sang Amir. Rupanya surat itu menggugah jiwa dan menggemuruhkan dada sang Amir. Pertanyaan tersebut selalu terngiang-ngiang dalam benaknya, sementara jawabannya sudah tersimpan rapi dalam otaknya yang senantiasa aktif memikirkan urusan keislaman.

          Tidak berapa lama sepulangnya dari Andalusia (Spanyol), Syakib Arslan segera menyiapkan jawaban atas pertanyaan tersebut. Selama tiga hari dalam menjawabnya, kesan-kesan emosional selama berkunjung ke ‘negeri nan jaya yang telah hilang’ itu masih terekam kuat dalam jiwanya. Untuk pertama kalinya, jawaban berwujud risalah itu dimuat di Majalah Al-Manar.

          Pada tahun 1940, Sayyid Rasyid Ridhah, dengan Al-Manar Press-nya, berinisiatif menerbitkan risalah ini secara tersendiri dalam bentuk buku tipis, dilengkapi dengan beberapa judul (kepala karangan). Alhasil, buku itu cetak ulang berkali-kali. Dunia Islam pun saling mengedarkannya dengan penuh rasa rindu dan bangga. Sebab, risalah tersebut memuat jawaban-jawaban yang tegas lagi terang-benderang atas berbagai hal yang masih menjadi tanda tanya.

          Tentang risalah ini, Sayyid Rashid Ridha berkomentar :


“Beberapa Negara colonial dibuat gelisah dan sangat terguncang olehnya. Bahkan,konon, Negara-negara kolonial itu membujuk pemerintah Suriah untuk melarang peredaran risalah ini di sana, padahal Negara itu berserta penduduknya paling berhak atas risalah tersebut. Jadilah Suriah satu-satunya Negara yang membela Negara-negara kolonial dalam memusuhi Islam. Prancis pun menghadapi risalah ini layaknya orang bodoh, dengan melarangnya masuk ke Aljazair. Prancis mewanti-wanti agar masyarakat tidak membacanya, seolah-olah risalah ini wabah penyakit, dengan ancaman hukuman bagi pelanggar tersebut. “ 

Komentar