Langsung ke konten utama

BERLINDUNG DIBALIK KATA ‘SIBUK’

Pergantian siang dan malam yang Allah berikan kepada hambanya adalah nikmat yang seharusnya dapat dimanfaatkan sebaik mungkin, sekaligus disyukuri sebagai sebuah ladang untuk terus berbuat yang terbaik. Dimulai dengan diri berbuat yang baik-baik, diharapkan darinya lahir perbuatan dan amal yang terbaik.

Semua makhluk-Nya diberi jatah waktu yang sama, 24 jam tanpa dikurangi atau ditambah. Dari kumpulan detik yang sangat panjang itu, manusia pun terbagi-bagi sebab hitungan detik itu. Dari mereka ada yang Allah muliakan mereka dengan pelbagai kebaikan yang diperbuat, sebab mereka memuliakan hitungan detik itu. Selanjutnya, makhluk-Nya yang ia hinakan sebab mereka menghinakan hitungan detik yang telah diberikan kepada mereka.

Imam Nawawi mengatakan, “Seorang penuntut ilmu harus memiliki jiwa rakus untuk belajar ilmu, senantiasa menekuninya di setiap waktu, baik malam maupun siang, ketika bermukim maupun bepergian. Ia tidak boleh menyia-nyiakan sedikit pun waktunya untuk selain ilmu, kecuali karena terpaksa. Seperti untuk makan dan tidur yang tidak mungkin dielakkan. Termasuk pula istirahat sejenak untuk menghilangkan kejenuhan dan kebosanan, serta kebutuhan-kebutuhan pokok lainnya.”

Gurunya Ibnul Jauzi, Yahya ibn Hubairah Al-Baghdadi Al-Hanbali, lahir tahun 449 dan wafat tahun 560 H berkata, “Waktu adalah harta paling mahal yang harus anda jaga. Namun, aku lihat ia paling mudah anda hilangkan.” (Dzailu Thabaqat al-hanabilah)

Sering kali kita selalu pandai berkilah, saat ada yang meminta kita untuk berbuat yang baik-baik. Sebab kegiatan dan rutinitas yang dikerjakan sehari-harinya membuat setiap kita berfikir bahwa itu adalah kesibukan yang tak boleh diganggu gugat. Padahal jika ditanya dengan jujur, manakah yang lebih banyak kita habiskan waktu itu, rutinitas kita atau waktu kosong yang berlalu begitu saja? Maka yang menjadi jawaban adalah waktu kosong yang sering terabaikan. Setelah itu, kita masih saja menyebut bahwa hari-hari kita adalah hari-hari yang sibuk.

Seorang mahasiswa, jika diajak untuk hal-hal kebaikan yang tidak banyak menyita waktunya, maka yang akan keluar dari lisannya adalah kata ‘aku sibuK’. Atau jika diajak untuk memikirkan sedikit tentang agama ini dan bangsa ini, maka yang akan menjadi alasannya, ‘aku punya kegiatan ini, tugas itu dan lainnya’. Jika sudah seperti ini yang menjadi alasan, maka biasanya yang mengajak atau memintanya untuk itu akan pasrah dan mengatakan, ‘kalau sudah begitu, ya bagaimana lagi solusinya.’

Sebenarnya bukan kesibukan kita yang banyak, namun kita yang selalu menyibukkan diri pada hal-hal yang sia-sia. Dengannya kita menganggap bahwa kita memang sibuk dan tidak boleh disibukkan dengan yang lain. Hal-hal yang sia-sia itu yang membuat kita bertumpuk dengan kesibukan. Mari bermuhasabah diri!


Madinah, 05 Muharram 1439 H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Generasi Buta Sejarah

Sebagian manusia bertanya, mengapa harus belajar sejarah dan membacanya? mengapa harus melihat ke masa lampau dan meniliknya? Bukankah itu hanyalah catatan masa lampau yang benar atau salahnya tidak juga bisa dibuktikan? Untuk menjawab semua pertanyaan tadi, cukuplah dua ayat Al-Qur’an menjadi jawabannya. “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (Q.S. Al-An’am : 90) “Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (Q.S. Al-A’raf:176) Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah nya mengungkapkan faedah belajar sejarah yang merupakan mazhab keilmuan yang faedahnya sangat banyak dan sasarannya sangat mulia, karena dengan sejarah kita mampu mengenali akhlak umat-umat terdahulu, jejak hidup para nabi, dan tata kelola pemerintahan serta dasar kebijakan politik para raja, dengan tujuan agar kita mampu mengikuti peri kehidupan mereka hingga kita mampu mengambil faedah untuk kepentingan dunia dan agama. A...

KESUNGGUHAN YANG HEBAT

Kesungguhan adalah harga mutlak dalam menuntut ilmu. Karena tanpanya, ilmu mustahil akan didapat. Perihal ini, Imam Nawawi berpesan, “Termasuk adab pelajar yang amat ditekankan ialah gemar dan tekun menuntut ilmu pada setiap waktu yang dapat dimanfaatkannya dan tidak puas dengan yang sedikit sedangkan dia mendapatkan yang banyak. Janganlah dia memaksa dirinya melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya supaya tidak jemu dan hilang apa yang diperolehnya. Ini tentu berbeda sesuai dengan perbedaan manusia dan keadaan mereka. Jika tiba di majlis guru dan tidak menemukannya, dia mesti menunggu dan tetap tinggal di pintunya. Janganlah meninggalkan tugasnya, kecuali jika dia takut gurunya tidak menyukai hal itu dengan mengetahui bahawa gurunya mengajar dalam waktu tertentu dan tidak mengajar ketika lainnya.” ( At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran, hal.68, dar al-minhaj) Dan diantara bukti kesungguhan adalah dengan banyak bersabar dalam menuntut ilmu. Hal ini telah disinggung ...

DIMANA KAMI DARI MEREKA?

Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Malik berdiri di tenagh teriknya panas matahari hanya untuk Menunggu gurunya Nafi’ keluar dan mengajarkannya satu Hadist Rasulullah. Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Syafi’I menulis di atas tulang-belulang Karena tidak sanggup membeli kertas. Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Ahmad berjalan kaki dari Baghdad menyusuri negeri-negeri asing Untuk berguru pada ahli hadist dan ulama-ulama dunia. Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Bukhari berjalan berpuluh-puluh kilo untuk mencari hadist dan mengumpulkannya. Kemudian ia tawakkalkan dengan memanjatkan pinta di shalat dua raka’at pada setiap Menuliskan hadist Rasulullah di ‘shahihnya’ Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Muslim an Nisaburi menghabiskan malamnya untuk mencari hadist yang ia tidak ketahui. Hingga ia lupa menuangkan air ke tenggorongkannya setelah ia menelan kurma di saat makan malamnya. Ya Rabb.. Dimana ka...