Langsung ke konten utama

Postingan

Semangat Ayah + Do’a Ibu = Kesuksesan Oleh : M.Yusuf Habibi Harahap 02 Maret 2015. Saat dimana pertama kali kaki menginjak tanah penuh berkah ini. Negeri saksi Rasulullah berhijrah bersama sahabatnya. Negeri saksi perjuangan Rasul terakhir dan penutup risalah kenabian. Tanah dimana sejarah umat ini tercatat dengan indahnya. Negeri yang Rasulullah bertutur tentangnya “adalah lebih baik jika kamu mengetahuinya”. Ea, Kota Madinah Munawwarah. Negeri yang selalu dirindu jika sudah meninggalkannya. Negeri dengan semua ketenangannya. Betapa tidak. Di tanah ini, Rasulullah dimakamkan. Di negeri ini, Masjid Rasulullah dibangun. Masjid yang shalat di dalamnya mendapatkan keutamaan 1000 kali lipat dibandingkan dengan masjid-masjid yang lainnya. Adakah kemudian nikmat-Nya yang pantas didustakan? Di tahun 2009 ayah dan ibuku mendapatkan kesempatan memenuhi panggilannya menunaikan ibadah haji. Saat itu ayah banyak bercerita setelah kepulangannya tentang dua kota suci yang beliau singg...

DDS (Dari Diri Sendiri)

" Sesungguhnya Allah tidak merubah suatu kaum sebelum merubah diri mereka sendiri " (Q.S. Ar-Ra'd:11 ) Mayoritas kita terlalu memikirkan hal-hal besar tetapi melupakan hal kecil yang terpenting dengan maksudnya terlalu jauh memikirkan negara, keluarga, anak didik, teman dll, namun melupakan diri sendiri. Berkata seorang ayah "Aku ingin merubah anak-anakku". Alangkah baiknya si ayah merubah dirisi terlebih dahulu. Berkata seorang guru "Aku ingin merubah murid-muridku ". Hendaklah berubah si guru terlebih dahulu. Berkata seorang pemuda " aku ingin merubah negaraku ". Hendaklah ia orang pertama yang melakukan perubahan itu.  Sebenarnya tidak masalah sama sekali memikirkan hal hebat tersebut, yang salah adalah terlalu memikirkan hal hebat tapi melupakan hal kecil yang terpenting. Maka dari itu, mari kita pikirkan kedua hal tersebut hal hebat dan hal penting. Langkah nya mungkin simple dengan setiap hari mengore...

RESENSI BUKU (KENAPA UMAT ISLAM TERTINGGAL)

Tentang Buku           Sejarah mencatat, kaum Muslimin pernah dominan di sepenggal masa. Itulah saat peradaban manusia berkembang pesat., kedamaian menjadi panglima dan kebajikan mendunia. Kala itu, umat Islam membawa obor penerangan. Di tangan merekalah kunci kebaikan.           Semua hal indah itu kini tinggal kenangan. Lihatlah bagaimana nasib umat Islam sekarang. Betapa tertinggalnya dari umat lain. Alangkah terpuruk nasibnya jika dibandingkan dengan kemajuan bangsa Eropa, Amerika, Jepang ataupun Cina. Sudah sekian abad, umat Islam tidak kunjung bergerak meraih kemajuan positif yang dicita-citakan. Memang benar kata pujangga: “Ada dua hal yang waktunya tak terukur: sampai kapan tidurnya seseorang dan sampai kapan tertinggalnya sebuah umat”           Berpijak dari kenyataan ini, umat Islam perlu menghayati wejangan Syakib Arslan. ...

BERLINDUNG DIBALIK KATA ‘SIBUK’

Pergantian siang dan malam yang Allah berikan kepada hambanya adalah nikmat yang seharusnya dapat dimanfaatkan sebaik mungkin, sekaligus disyukuri sebagai sebuah ladang untuk terus berbuat yang terbaik. Dimulai dengan diri berbuat yang baik-baik, diharapkan darinya lahir perbuatan dan amal yang terbaik. Semua makhluk-Nya diberi jatah waktu yang sama, 24 jam tanpa dikurangi atau ditambah. Dari kumpulan detik yang sangat panjang itu, manusia pun terbagi-bagi sebab hitungan detik itu. Dari mereka ada yang Allah muliakan mereka dengan pelbagai kebaikan yang diperbuat, sebab mereka memuliakan hitungan detik itu. Selanjutnya, makhluk-Nya yang ia hinakan sebab mereka menghinakan hitungan detik yang telah diberikan kepada mereka. Imam Nawawi mengatakan, “Seorang penuntut ilmu harus memiliki jiwa rakus untuk belajar ilmu, senantiasa menekuninya di setiap waktu, baik malam maupun siang, ketika bermukim maupun bepergian. Ia tidak boleh menyia-nyiakan sedikit pun waktunya untuk selain ilm...

DALAM KESIA-SIAAN MASA MUDA

         Betapa kami sangat miris melihat apa yang menjadi pemandangan biasa di tengah-tengah masyarakat, dari ketidakperduliaannya pemuda Islam dengan apa yang diminta bangsa dan agamanya darinya. Hiduplah banyak dari mereka dalam gemerlap masa muda yang penuh foya-foya. Dihiasilah keseharian dengan kemewahan yang dipaksakan. Betapa tidak, mereka hanya memaksa orangtuanya ‘mendadaninya’ dengan kehidupan yang serba mewah. Betapa pemandangan yang sangat mengiris hati. Adakah sedikit saja mereka memikirkan bangsanya, agama?  “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S. An-Nisa’:09) Buya Hamka berpesan , “Hai pemuda Muslimin! Di dalam sudut dari hatimu, dibawah sanubari yang dalam sekali tersembunyilah suara kekua...

Mulia dalam Kesederhanaan

Adalah kekasihnya Allah yang berjalan di tengah teriknya matahari itu bersama kekasihnya juga, seorang hamba Allah yang taqwa dan sangat zuhud. Sang kekasih Allah itu pun tiba di tempat dimana Allah memberikan wahyu untuk menjalani fase kedua dari dakwahnya. Di kota ini, ia disambut dengan sangat baik oleh penduduk yang hidup dalam ukhuwah kasih sayang.  Sesampainya di kota itu, dengan para sahabatnya yang lain dan juga kaum Anshar, mereka bahu membahu membangun satu masjid dimana kelak akan menjadi pusat kehidupan penduduk kota ini. Sebuah bangunan yang sederhana namun sangatlah megah. Karena dibangun oleh cinta dan taqwa.           Selesai pembangunan masjid, kekasih Allah itu pun membangunkan sebuah bilik kecil tempat ia dan istri-istrinya berteduh dan beristirahat. Satu ruangan kecil bersahaja yang masih ada hingga hari ini menjadi tempat kekasih Allah itu berbaring bersama kedua sahabatnya, dua hamba Allah yang juga mewar...

Generasi Buta Sejarah

Sebagian manusia bertanya, mengapa harus belajar sejarah dan membacanya? mengapa harus melihat ke masa lampau dan meniliknya? Bukankah itu hanyalah catatan masa lampau yang benar atau salahnya tidak juga bisa dibuktikan? Untuk menjawab semua pertanyaan tadi, cukuplah dua ayat Al-Qur’an menjadi jawabannya. “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (Q.S. Al-An’am : 90) “Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (Q.S. Al-A’raf:176) Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah nya mengungkapkan faedah belajar sejarah yang merupakan mazhab keilmuan yang faedahnya sangat banyak dan sasarannya sangat mulia, karena dengan sejarah kita mampu mengenali akhlak umat-umat terdahulu, jejak hidup para nabi, dan tata kelola pemerintahan serta dasar kebijakan politik para raja, dengan tujuan agar kita mampu mengikuti peri kehidupan mereka hingga kita mampu mengambil faedah untuk kepentingan dunia dan agama. A...