Oleh : M.Yusuf Habibi Harahap
02 Maret 2015. Saat dimana pertama
kali kaki menginjak tanah penuh berkah ini. Negeri saksi Rasulullah berhijrah bersama
sahabatnya. Negeri saksi perjuangan Rasul terakhir dan penutup risalah kenabian.
Tanah dimana sejarah umat ini tercatat dengan indahnya. Negeri yang Rasulullah
bertutur tentangnya “adalah lebih baik jika kamu mengetahuinya”. Ea, Kota
Madinah Munawwarah. Negeri yang selalu dirindu jika sudah meninggalkannya.
Negeri dengan semua ketenangannya. Betapa tidak. Di tanah ini, Rasulullah
dimakamkan. Di negeri ini, Masjid Rasulullah dibangun. Masjid yang shalat di
dalamnya mendapatkan keutamaan 1000 kali lipat dibandingkan dengan
masjid-masjid yang lainnya.
Adakah kemudian nikmat-Nya yang
pantas didustakan?
Di tahun 2009 ayah dan ibuku
mendapatkan kesempatan memenuhi panggilannya menunaikan ibadah haji. Saat itu
ayah banyak bercerita setelah kepulangannya tentang dua kota suci yang beliau
singgahi. Kota Makkah dan Kota Madinah. Pada tahun yang sama, disaat duduk di
kelas 1 aliyah saya menuliskan 50 lebih impian di masa yang akan datang. Saat
itu, anak umur 15 tahun menuliskan mimpi-mimpinya yang jika dibaca saat itu,
ingin tertawa pastinya. Betapa tidak. Terlalu tinggi khayalnya. Pada nomor 10
dari impiannya saat itu adalah, ingin menyelesaikan S1 di Kota Madinah. Dan di
nomor 13 ia menuliskan “ingin berdiri di depan makam nabi di dalam Masjid
Nabawi”. Itu yang dituliskan oleh anak berumur 15 tahun saat itu.
Ia hanya menuliskan itu dalam sebuah
agenda kusuh. Namun darisana lah ia kemudian membangun langkah-langkah kecil.
Setahun sebelumnya, ia sudah memulainya. Dengan selalu membawa piala-piala
kecil hasil lomba yang ia ikuti. Ia bawa saat liburan dari pesantren. Namun yang
membuat hatinya selalu meringis adalah respon ayah yang tidak seperti yang ia
inginkan. Datar, dingin dan tidak terlalu memperhatikan. Seperti itulah sosok
ayahnya. Sosok yang tidak banyak bercerita. Sosok keras penuh disiplin. Ia juga
bukan motivator ulung yang bisa memberi semangat luarbiasa seperti ayah-ayah
yang lain. Kata-katanya hanya satu ketika melepasnya jika kembali ke pesantren,
“Bagus-bagus belajar ya! Hemat-hemat uangnya” . Hatinya selalu merintih dengan
semua respon sang Ayah itu.
Itu tidak membuatnya putus asa. Ia
selalu berfikir postif dengan melihat sang Ayah. Seperti ia mendengar apa yang
dibisikkan sang Ayah dalam batinnya, “yang kau capai sekarang masih teramat
kecil. Aku dulu berjalan berpuluh-puluh kilo untuk sekolah. Aku mau yang lebih
hebat dari ini semua”. Darinya lah kemudian aku meruntut semangat Ayah yang
tiada duanya. Hingga kubuktikan di tahun 2009 itu juga. Aku bisa terbang dengan
pesawat yang selalu menjadi mimpi kecilku dahulu. Aku menjadi anak pertama ayah
yang naik pesawat dengan biaya free. Terbang menuju kota Lombok yang
asri sebagai kontingen provinsi. Saat itu, aku mampu membuat ayah menangis
terharu.
Semua itu membuatku membangun mimpi
yang lebih besar. Ibu lah sosok yang selanjutnya membuat jalan ini begitu
indah. Seorang wanita yang penuh ketegeran. Ialah motivasi kami untuk selalu menjadi orang yang
punya cita-cita yang besar. Wanita yang terbangun ditengah malam untuk
mengadahkan tangan meminta kepada pemilik semua kuasa, agar diberikan pada
anak-anaknya kesuksesan. Do’anya yang selalu kuminta saat ujian atau ingin
berlomba. Sosok teduh penuh cinta dan kasih sayang.
Wanita dengan cintanya yang tak
bertepi. Sosok yang selalu memberi kami wejangan dengan cerita saat ia dahulu
belajar dan bersekolah yang penuh liku dan kesusahan. Ibu yang dengan ikhlas
membimbing kami hingga saat ini dan berjuang ikhlas untuk menjadi bermanfaat
bagi sekeililingnya. Wanita yang selalu menyempatkan waktu-waktunya untuk
mengajar Al-Qur’an anak-anak tanpa dibayar sedikitpun. Karena baginya itu
adalah wasiat sang ibu yang ditinggalkan kepadanya.
Pada keduanya lah berkahnya
langkah-langkah ini. Pada ayah, semangat yang tiada pernah padam. Jiwa besar
yang tidak pernah mengeluh. Tangan ibu yang selalu mengadah berdo’a. Pintanya
menembus langit kedua dan didengar penghuni langit seluruhnya. Pada akhirnya,
di akhir tahun 2013 aku meraih beasiswa Universitas Qasim, Arab Saudi. Beasiswa
Al-Azhar, Mesir di tahun 2014. Dan di tahun 2015 sebuah beasiswa Madinah, Arab
Saudi kembali menghampiri. Terima kasih Ayah dan Ibu untuk semangat dan do’amu.Wallahu’alam
"Ya Tuhanku berilah aku
ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku
dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau
ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu
yang saleh". (Q.S. An-Naml:19)
Wallahu'alam*
(Tulisan ini diterbitkan dalam kumpulan tulisan bersama penulis Ahmad Rifa'i Rif'an dalam buku berjudul 'Beginilah cara tuhan menjawab impianku'.)

Komentar
Posting Komentar