Langsung ke konten utama

DDS (Dari Diri Sendiri)

" Sesungguhnya Allah tidak merubah suatu kaum sebelum merubah diri mereka sendiri " (Q.S. Ar-Ra'd:11 )

Mayoritas kita terlalu memikirkan hal-hal besar tetapi melupakan hal kecil yang terpenting dengan maksudnya terlalu jauh memikirkan negara, keluarga, anak didik, teman dll, namun melupakan diri sendiri.

Berkata seorang ayah "Aku ingin merubah anak-anakku". Alangkah baiknya si ayah merubah dirisi terlebih dahulu. Berkata seorang guru "Aku ingin merubah murid-muridku ". Hendaklah berubah si guru terlebih dahulu. Berkata seorang pemuda " aku ingin merubah negaraku ". Hendaklah ia orang pertama yang melakukan perubahan itu. 

Sebenarnya tidak masalah sama sekali memikirkan hal hebat tersebut, yang salah adalah terlalu memikirkan hal hebat tapi melupakan hal kecil yang terpenting.

Maka dari itu, mari kita pikirkan kedua hal tersebut hal hebat dan hal penting. Langkah nya mungkin simple dengan setiap hari mengoreksi diri kita " apakah aku orangnya emosional? atau dengki? atau sombong? atau riya'? atau apa dosaku hari ni dan sebelumnya???

Langkah berikutnya adalah memperbaiki. Sebab ketika masalah bertambah tetapi kemampuan diri tidak bertambah kita akan stres.

Jangan hanya dipikirin tetapi diperbaiki. Mungkin, setelah kita rasakan nikmatnya memperbaiki diri kita akan mengurangi untuk sedikit melihat kekurangan orang lain, marah dengan kekurangan orang lain. Berubah dengan sebenar-benar yang tulus yang tumbuh dari hati yang bersih tanpa noda.

Wallahu'alam. (Nurul Aina)*

Penulis adalah Mahasiswi di Universitas Kairo, Mesir


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Generasi Buta Sejarah

Sebagian manusia bertanya, mengapa harus belajar sejarah dan membacanya? mengapa harus melihat ke masa lampau dan meniliknya? Bukankah itu hanyalah catatan masa lampau yang benar atau salahnya tidak juga bisa dibuktikan? Untuk menjawab semua pertanyaan tadi, cukuplah dua ayat Al-Qur’an menjadi jawabannya. “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (Q.S. Al-An’am : 90) “Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (Q.S. Al-A’raf:176) Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah nya mengungkapkan faedah belajar sejarah yang merupakan mazhab keilmuan yang faedahnya sangat banyak dan sasarannya sangat mulia, karena dengan sejarah kita mampu mengenali akhlak umat-umat terdahulu, jejak hidup para nabi, dan tata kelola pemerintahan serta dasar kebijakan politik para raja, dengan tujuan agar kita mampu mengikuti peri kehidupan mereka hingga kita mampu mengambil faedah untuk kepentingan dunia dan agama. A...

KESUNGGUHAN YANG HEBAT

Kesungguhan adalah harga mutlak dalam menuntut ilmu. Karena tanpanya, ilmu mustahil akan didapat. Perihal ini, Imam Nawawi berpesan, “Termasuk adab pelajar yang amat ditekankan ialah gemar dan tekun menuntut ilmu pada setiap waktu yang dapat dimanfaatkannya dan tidak puas dengan yang sedikit sedangkan dia mendapatkan yang banyak. Janganlah dia memaksa dirinya melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya supaya tidak jemu dan hilang apa yang diperolehnya. Ini tentu berbeda sesuai dengan perbedaan manusia dan keadaan mereka. Jika tiba di majlis guru dan tidak menemukannya, dia mesti menunggu dan tetap tinggal di pintunya. Janganlah meninggalkan tugasnya, kecuali jika dia takut gurunya tidak menyukai hal itu dengan mengetahui bahawa gurunya mengajar dalam waktu tertentu dan tidak mengajar ketika lainnya.” ( At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran, hal.68, dar al-minhaj) Dan diantara bukti kesungguhan adalah dengan banyak bersabar dalam menuntut ilmu. Hal ini telah disinggung ...

DIMANA KAMI DARI MEREKA?

Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Malik berdiri di tenagh teriknya panas matahari hanya untuk Menunggu gurunya Nafi’ keluar dan mengajarkannya satu Hadist Rasulullah. Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Syafi’I menulis di atas tulang-belulang Karena tidak sanggup membeli kertas. Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Ahmad berjalan kaki dari Baghdad menyusuri negeri-negeri asing Untuk berguru pada ahli hadist dan ulama-ulama dunia. Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Bukhari berjalan berpuluh-puluh kilo untuk mencari hadist dan mengumpulkannya. Kemudian ia tawakkalkan dengan memanjatkan pinta di shalat dua raka’at pada setiap Menuliskan hadist Rasulullah di ‘shahihnya’ Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Muslim an Nisaburi menghabiskan malamnya untuk mencari hadist yang ia tidak ketahui. Hingga ia lupa menuangkan air ke tenggorongkannya setelah ia menelan kurma di saat makan malamnya. Ya Rabb.. Dimana ka...