Langsung ke konten utama

Panglima Allah itu Sa'ad

Tepat pilihan Amirul Mu'minin Umar ibn Khattab saat menunjuk sahabat mulia, singa medan perang Sa'ad ibn Abi Waqqash sebagai panglima membawa pasukan hebat dari Kota Madinah menuju Madain untuk penaklukan sekaligus jihad di jalan Allah.

Musuh sudah bersiap di seberang sungai dengan jumlah yang berlipat banyaknya. Saat itu panglima menyerukan pada pasukan berkuda untuk maju menyebrangi sungai. Dengan Ashim ibn Amru menjadi kepala pasukan, berangkatlah pasukan kuda menyeberangi sungai tanpa kendala dan bertempur di pinggir sungai dengan gagah berani dan berakhir dengan kemenangan umat Muslim.

Di seberang sungai, Sa'ad masih bersama dengan pasukan biasa. Beberapa saat kemudian, sang panglima memerintahkan untuk menyeberangi sungai. Di tengah air yang semakin bertambah dan arus yang hebat, mereka melangkah menembus semua itu. Sa'ad memerintahkan saat menyeberangi sungai itu mengucapkan "Nasta'inu billah waa natawakkalu 'alaihi. Hasbunallah waa ni'mal wakil, laa haula walaa quwwata illa billah al alayil 'azim"

Menyeberang lah pasukan Muslimin di tengah kuatnya arus. Salman al farisi menyebutkan bahwa saat itu ia di samping Sa'ad. Ia mendengar Sa'ad berkata "Cukuplah Allah sebagai penolong kami dan ialah sebaik yang disandarkan. Allah akan menolong para wali nya dan meninggakan agamanya dan mengalahkan musuh-musuhnya jika di tengah pasukanku ini tidak ada yabg berbuat zalim atau berbuat kesalahan yang melebihi kebaikannya. " Berhasil penyeberangan ini dengan pertolongan Allah dan doa Sa'ad tanpa ada yang hilang satupun dari pasukan kaum Muslimin

(At Thabari, Tarikh al umam wal muluk)

Imam Ibnu Katsir mengomentari peristiwa ini. Pasukan kaum Muslimin hari itu berjalan di sungai seperti mereka berjalan di atas tanah dan mereka saling berbicara di antara mereka. Kemudian Ibnu Katsir mengatakan "Para pasukan itu mendapatkan ketenangan dan rasa aman itu sebab mereka meyakini janji Allah dan pertolongannya. Sebab Amir mereka Sa'ad ibn Abi Waqqash adalah satu dari yang dijanjikan surga, Rasulullah wafat dan ridha terhadapnya dan berdoa kepadanya (kepada Sa'ad) "Ya Allah, kabulkan jika ia berdoa dan tepatkan lemparannya".

(Ibnu Katsir, al Bidayah wa an nihayah)


[ Diringkas dari buku Tarikh al khulafa ar rasyidin karya, Prof. Dr. Muhammad ibn Ibrahim ibn Shalih Abal khail ]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Generasi Buta Sejarah

Sebagian manusia bertanya, mengapa harus belajar sejarah dan membacanya? mengapa harus melihat ke masa lampau dan meniliknya? Bukankah itu hanyalah catatan masa lampau yang benar atau salahnya tidak juga bisa dibuktikan? Untuk menjawab semua pertanyaan tadi, cukuplah dua ayat Al-Qur’an menjadi jawabannya. “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (Q.S. Al-An’am : 90) “Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (Q.S. Al-A’raf:176) Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah nya mengungkapkan faedah belajar sejarah yang merupakan mazhab keilmuan yang faedahnya sangat banyak dan sasarannya sangat mulia, karena dengan sejarah kita mampu mengenali akhlak umat-umat terdahulu, jejak hidup para nabi, dan tata kelola pemerintahan serta dasar kebijakan politik para raja, dengan tujuan agar kita mampu mengikuti peri kehidupan mereka hingga kita mampu mengambil faedah untuk kepentingan dunia dan agama. A...

KESUNGGUHAN YANG HEBAT

Kesungguhan adalah harga mutlak dalam menuntut ilmu. Karena tanpanya, ilmu mustahil akan didapat. Perihal ini, Imam Nawawi berpesan, “Termasuk adab pelajar yang amat ditekankan ialah gemar dan tekun menuntut ilmu pada setiap waktu yang dapat dimanfaatkannya dan tidak puas dengan yang sedikit sedangkan dia mendapatkan yang banyak. Janganlah dia memaksa dirinya melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya supaya tidak jemu dan hilang apa yang diperolehnya. Ini tentu berbeda sesuai dengan perbedaan manusia dan keadaan mereka. Jika tiba di majlis guru dan tidak menemukannya, dia mesti menunggu dan tetap tinggal di pintunya. Janganlah meninggalkan tugasnya, kecuali jika dia takut gurunya tidak menyukai hal itu dengan mengetahui bahawa gurunya mengajar dalam waktu tertentu dan tidak mengajar ketika lainnya.” ( At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran, hal.68, dar al-minhaj) Dan diantara bukti kesungguhan adalah dengan banyak bersabar dalam menuntut ilmu. Hal ini telah disinggung ...

DIMANA KAMI DARI MEREKA?

Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Malik berdiri di tenagh teriknya panas matahari hanya untuk Menunggu gurunya Nafi’ keluar dan mengajarkannya satu Hadist Rasulullah. Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Syafi’I menulis di atas tulang-belulang Karena tidak sanggup membeli kertas. Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Ahmad berjalan kaki dari Baghdad menyusuri negeri-negeri asing Untuk berguru pada ahli hadist dan ulama-ulama dunia. Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Bukhari berjalan berpuluh-puluh kilo untuk mencari hadist dan mengumpulkannya. Kemudian ia tawakkalkan dengan memanjatkan pinta di shalat dua raka’at pada setiap Menuliskan hadist Rasulullah di ‘shahihnya’ Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Muslim an Nisaburi menghabiskan malamnya untuk mencari hadist yang ia tidak ketahui. Hingga ia lupa menuangkan air ke tenggorongkannya setelah ia menelan kurma di saat makan malamnya. Ya Rabb.. Dimana ka...