Suatu
saat Buya Hamka ditanya, apakah sebabnya umat Islam sekarang tidak seperti
umat Islam zaman dahulu dan umat Islam jau tertinggal dari umat lain?
Buya menjawab, “Sebab soal maju dan
mundurnya umat Islam itu bukanlah suatu hal yang terjadi secara tiba-tiba, tapi
satu proses sejarah yang berlangsung melalui priode demi priode atau melalui
beberapa kurun waktu”
Melanjutkan tulisan sebelumnya,
menyempurnakan yang belum sempurna dari apa yang hendak kami sampaikan. Hebatnya
peran media sosial memainkan ‘ajakan’ ini membuat banyak generasi mengambil
hiburan dengannya dan bahkan menghabiskan waktu di dalamnya. Akibatnya banyak
hal yang terabaikan dan terlantarkan. Tugas-tugas masa muda pun terlupakan
sebab ‘dimabuk’ hal hal itu.
Sekolah yang dijalanin pun hanya
sekedarnya, tak mengambil hal-hal di luarnya untuk membekali diri yang akan
melangkah ke depan. Kampus-kampus pun seharusnya memberikan peran yang penting
untuk bisa mengalihkan fokus mahasiswanya untuk hal-hal yang bisa membangun
pribadi, keilmuan, sosial dan rohaninya. Bukan kemudian memberikan ruang yang
luas untuk mengadakan acara-acara ‘pra nikah’ yang sangat menjamur dan meriah. Bukanlah
sebuah aib atau kesalahan jika acara-acara seperti itu diadakan untuk
memberikan bekal yang tak kalah penting di hari esok. Namun menjadikan acara
itu fokus, akan memberikan kesan negatif, sebab ‘lembek’ jiwa karena
baper-baperan dibuat sang narasumber yang juga telah menjalani nikah muda.
Semangat-semangat perjuangan jarang
kemudian ditemukan ada dari kumpulan mahasiswa di dalam kampus. Kampus yang seharusnya
menjadi kantong-kantong kesungguhan memikirkan masa depan bangsa dan agama kini
hanya menjadi bualan belaka. Kampus hanya dijadikan tempat ‘mengambil’ ijazah. Semangat-semangat
keilmuan pun semakin redup, sebab mahasiswa lebih tertarik menghabiskan
waktunya menononton film-film korea yang menampilkan perjuangan cinta yang
semu. Tak jarang mereka mereka sampai terbawa suasana dan merintikkan air mata
karenanya.
Masa yang seharusnya digunakan untuk
langkah-langkah kecil yang menghebatkan, mengbangun bangsa dalam fikir,
diskusi, tela’ah, kegiatan sosial membangun masyarakat, kini berlalu dan
kemudian berhenti di atas panggung pelaminan. Sekali lagi, pernikahan di masa
muda bukanlah aib, bahkan anjuran Rasulullah. Namun, berapa dari generasi ini
benar siap mental dan jiwanya menghadapi kehidupan bernama rumah tangga yang
sangat pelik?
Pernikahan adalah menyempurnakan yang
belum sempurna. Ilmu yang belum sempurna, haruslah disempurnakan. Sebab yang
selalu digaungkan oleh ‘ajakan’ ini adalah membangun generasi yang lebih baik. Itu
tidaklah tercapai tanpa orangtua yang mencintai ilmu sebagai bagian dari
hidupnya. Menikah adalah menyempurnakan yang belum sempurna. Bakti kepada kedua
orangtua yang belum sempurna sebab diambil masa sekolah, seharusnya
disempurnakan sebaik mungkin. Karena bakti adalah kewajiban yang tak berbatas
waktu. Menikah banyak sedikitnya akan mengurangi porsi bakti kita kepada
keduanya.
Menikah adalah menyempurnakan yang belum
sempurna. Perjuangan untuk masyarakat yang belum kita berikan, berikanlah
sebagai sumbangsih kepada agamanya. Pendidikan, sosial, ekonomi yang menjadi
bagian penting dari sebuah masyarakat membuntuhkan tangan-tangan generasi muda
dan pemikirannya. Sebab mereka lah yang telah mempelajari bertumpuk-tumpuk
teori di bangku sekolah dan menyerap pelbagai pengetahuan. Mereka lah yang
ditunggu masyarakat untuk membangun lingkungannya.
Menikah adalah menyempurnakan yang
belum sempurna. Jiwa muda perlu ditempah dengan hari-hari yang sulit, kejadian
yang pelik dan suasana yang sulit. Itu akan menjadikan dirinya siap menempuh
harinya jika membangun sebuah keluarga. Di masa sekolah, seorang anak hanya lah
mendapatkan segalanya dari orangtua. Jika kemudian setelah itu, ia langsung
membangun sebuah pernikahan, jiwa yang sering dimanja tadi akan terkejut menghadapi
masa itu.
Membangun dunia pernikahan bukanlah
sebuah hal sepele, hal yang selalu indah seperti yang digambarkan oleh
film-film korea atau yang tampak di media sosial yang diumbar oleh
pasangan-pasangan muda. Jiwa-jiwa ‘lembek’ hanya akan bertambah jika generasi
muda tidak cepat insaf akan tugas-tugas dan kewajibannya di masa ini. Ilmu,
jiwa yang siap, bakti kepada kedua orangtua, sosial perlu disempurnakan sebelum
kita menyempurnakan separuh agama seperti apa yang agama perintahkan dan
anjurkan.
Wallahu’alam
bis shawab, Madinah 27 Rabiul Akhir 1439 H

Komentar
Posting Komentar