Langsung ke konten utama

Menyempurnakan yang Belum Sempurna (Bagian II)

Suatu saat Buya Hamka ditanya, apakah sebabnya umat Islam sekarang tidak seperti umat Islam zaman dahulu dan umat Islam jau tertinggal dari umat lain?

Buya menjawab, “Sebab soal maju dan mundurnya umat Islam itu bukanlah suatu hal yang terjadi secara tiba-tiba, tapi satu proses sejarah yang berlangsung melalui priode demi priode atau melalui beberapa kurun waktu”

          Melanjutkan tulisan sebelumnya, menyempurnakan yang belum sempurna dari apa yang hendak kami sampaikan. Hebatnya peran media sosial memainkan ‘ajakan’ ini membuat banyak generasi mengambil hiburan dengannya dan bahkan menghabiskan waktu di dalamnya. Akibatnya banyak hal yang terabaikan dan terlantarkan. Tugas-tugas masa muda pun terlupakan sebab ‘dimabuk’ hal hal itu.

          Sekolah yang dijalanin pun hanya sekedarnya, tak mengambil hal-hal di luarnya untuk membekali diri yang akan melangkah ke depan. Kampus-kampus pun seharusnya memberikan peran yang penting untuk bisa mengalihkan fokus mahasiswanya untuk hal-hal yang bisa membangun pribadi, keilmuan, sosial dan rohaninya. Bukan kemudian memberikan ruang yang luas untuk mengadakan acara-acara ‘pra nikah’ yang sangat menjamur dan meriah. Bukanlah sebuah aib atau kesalahan jika acara-acara seperti itu diadakan untuk memberikan bekal yang tak kalah penting di hari esok. Namun menjadikan acara itu fokus, akan memberikan kesan negatif, sebab ‘lembek’ jiwa karena baper-baperan dibuat sang narasumber yang juga telah menjalani nikah muda.
         
          Semangat-semangat perjuangan jarang kemudian ditemukan ada dari kumpulan mahasiswa di dalam kampus. Kampus yang seharusnya menjadi kantong-kantong kesungguhan memikirkan masa depan bangsa dan agama kini hanya menjadi bualan belaka. Kampus hanya dijadikan tempat ‘mengambil’ ijazah. Semangat-semangat keilmuan pun semakin redup, sebab mahasiswa lebih tertarik menghabiskan waktunya menononton film-film korea yang menampilkan perjuangan cinta yang semu. Tak jarang mereka mereka sampai terbawa suasana dan merintikkan air mata karenanya.

          Masa yang seharusnya digunakan untuk langkah-langkah kecil yang menghebatkan, mengbangun bangsa dalam fikir, diskusi, tela’ah, kegiatan sosial membangun masyarakat, kini berlalu dan kemudian berhenti di atas panggung pelaminan. Sekali lagi, pernikahan di masa muda bukanlah aib, bahkan anjuran Rasulullah. Namun, berapa dari generasi ini benar siap mental dan jiwanya menghadapi kehidupan bernama rumah tangga yang sangat pelik?
          Pernikahan adalah menyempurnakan yang belum sempurna. Ilmu yang belum sempurna, haruslah disempurnakan. Sebab yang selalu digaungkan oleh ‘ajakan’ ini adalah membangun generasi yang lebih baik. Itu tidaklah tercapai tanpa orangtua yang mencintai ilmu sebagai bagian dari hidupnya. Menikah adalah menyempurnakan yang belum sempurna. Bakti kepada kedua orangtua yang belum sempurna sebab diambil masa sekolah, seharusnya disempurnakan sebaik mungkin. Karena bakti adalah kewajiban yang tak berbatas waktu. Menikah banyak sedikitnya akan mengurangi porsi bakti kita kepada keduanya.
          Menikah adalah menyempurnakan yang belum sempurna. Perjuangan untuk masyarakat yang belum kita berikan, berikanlah sebagai sumbangsih kepada agamanya. Pendidikan, sosial, ekonomi yang menjadi bagian penting dari sebuah masyarakat membuntuhkan tangan-tangan generasi muda dan pemikirannya. Sebab mereka lah yang telah mempelajari bertumpuk-tumpuk teori di bangku sekolah dan menyerap pelbagai pengetahuan. Mereka lah yang ditunggu masyarakat untuk membangun lingkungannya.

          Menikah adalah menyempurnakan yang belum sempurna. Jiwa muda perlu ditempah dengan hari-hari yang sulit, kejadian yang pelik dan suasana yang sulit. Itu akan menjadikan dirinya siap menempuh harinya jika membangun sebuah keluarga. Di masa sekolah, seorang anak hanya lah mendapatkan segalanya dari orangtua. Jika kemudian setelah itu, ia langsung membangun sebuah pernikahan, jiwa yang sering dimanja tadi akan terkejut menghadapi masa itu.

          Membangun dunia pernikahan bukanlah sebuah hal sepele, hal yang selalu indah seperti yang digambarkan oleh film-film korea atau yang tampak di media sosial yang diumbar oleh pasangan-pasangan muda. Jiwa-jiwa ‘lembek’ hanya akan bertambah jika generasi muda tidak cepat insaf akan tugas-tugas dan kewajibannya di masa ini. Ilmu, jiwa yang siap, bakti kepada kedua orangtua, sosial perlu disempurnakan sebelum kita menyempurnakan separuh agama seperti apa yang agama perintahkan dan anjurkan.


Wallahu’alam bis shawab, Madinah 27 Rabiul Akhir 1439 H

Komentar