Hingga saat kami mulai menggerakkan
jemari ini di atas keyboard notebook yang sudah sangat menua, satu pikiran kami
melayang pada satu masa yang teramat indah. Suatu malam di bawah gemerlapnya
bulan yang sudah menampakkan wujudnya. ‘owh, sudah masuk bulan baru hijriah’
tutur ibu kepada kami. Saat itu adalah dimana kami bersama kakak dan adik duduk
di teras berbincang ria setelah shalat isa’. Kebiasaan yang sering kami lakukan
sejam atau setengah jam untuk sedikit berbagi kisah atau mendengar nasehat ibu.
Saat-saat seperti ini selalu menjadi yang kami nanti saat liburan kuliah. Jarak
jauh memisahkan kami untuk mendapatkan momen bahagia itu.
Cerita tadi bukanlah maksud dari kami
menulis tulisan ini. Adalah satu fenomena yang kami merasa sangat ‘getol’
membuyarkan masa muda hari ini dari setiap lamunannya. Satu keadaan yang
menyentakkan generasi muda, namun disaat yang sama mengembalikan mereka pada
lamunan panjang, yang terkadang berakhir dengan sesegukan tangisan. Ada apa? Mengapa?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Giatnya kegiatan media sosial
menjadikan hampir sebagian besar generasi hari ini berada di dunia dengan
kepalsuan, pura-pura dan menyimpan topeng yang sangat cerdas. Dunia yang luas
terasa semakin sempit dan menyempitkan. Ruang-ruang hidup jadi semakin sesak
dan terdorong untuk membosankan. Sosial-sosial yang dilakukan hanya sebatas
kata dan ke kata. Di tengan riuhnya dunia media sosial hari ini, ada satu yang
kami lihat sedang diberi ruang khusus untuk generasi muda Islam khususnya. Dari
gerakan-gerakan ‘hijrah’, hijab hingga gerakan generasi anti pacaran. Semuanya adalah
satu kesungguhan yang pantas untuk disyukuri. Satu usaha menuju sebuah kebaikan
yang sangat banyak. Disaat yang sama, kami melihat ‘virus’ ini membalikkan
semangat yang dahulu ingin dituju oleh sahabat-sahabat yang membuatnya.
Pernah kami berdiskusi dengan beberapa
sahabat perihal luasnya dakwah bernama ‘nikah muda’ di media sosial. Sebagian sahabat
menanggapinya sangat baik, yang lain memberikan kritik-kritiknya. Yang ditampakkan
adalah wanita-wanita bercadar bersama pasangannya atau wanita-wanita mulia
berhijab santun, menanti jodohnya dalam penantian panjang. Dibalut dengan
kata-kata yang sangat ‘mengajak’, dakwah ini mendapat perhatian khusus dari
generasi ini dibanding prihal lain.
Adalah kebaikan yang sangat besar,
ketika seorang lelaki menyegerakan keinginannya untuk menyempurnakan agama
selayaknya Rasulullah memberi tuntutan. Disanalah kehormatan dan juga diri
terjaga. Juga sudah perintah Allah untuk menjaga diri dari kerusakan, baik
pengaruh lingkungan atau juga sahabat. ‘Gerakan dakwah’ ini memiliki tujuan
dalam pandangan kami menjauhkan generasi
ini dari sebuah fenomena yang buruk bernama pacaran yang biasanya sudah
mulai menjamur di masa sekolah menengah pertama.
Ajakan sekaligus seruan ini semakin
mendapat sambutan yang baik dengan ditambah pesatnya perfiliman yang
menyuarakan hal ini. Akhirnya ‘baper-baperan’ pun merambat ke dalam jiwa-jiwa
generasi muda yang seharusnya diisi dengan semangat ‘jihad’ bangsa dan agama. Alih-alih
menjauhkan diri dari perihal ‘pacaran’, generasi ini kehilangan ruh membersamai
masa-masa muda ini dalam langkah-langkah hebat sebuah perjuangan.
Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk
memojokkan satu komunitas atau gerakan sahabat-sahabat atau usaha-usaha yang
telah dibangun. Tulisan hanyalah sedikit coretan kami melihat keadaan generasi
yang kami menjadi salah seorang di dalamnya. Bersambung..(yang nulis mau
liburan sejenak)
Wallahu’alam,
Madinah 22 Rabiul Akhir 1439 H
TULISAN AKAN DISEMPURNAKAN SAMPAI TIBA WAKTUNYA

Komentar
Posting Komentar