Langsung ke konten utama

Menyempurnakan yang Belum Sempurna (Bagian 1)

      Hingga saat kami mulai menggerakkan jemari ini di atas keyboard notebook yang sudah sangat menua, satu pikiran kami melayang pada satu masa yang teramat indah. Suatu malam di bawah gemerlapnya bulan yang sudah menampakkan wujudnya. ‘owh, sudah masuk bulan baru hijriah’ tutur ibu kepada kami. Saat itu adalah dimana kami bersama kakak dan adik duduk di teras berbincang ria setelah shalat isa’. Kebiasaan yang sering kami lakukan sejam atau setengah jam untuk sedikit berbagi kisah atau mendengar nasehat ibu. Saat-saat seperti ini selalu menjadi yang kami nanti saat liburan kuliah. Jarak jauh memisahkan kami untuk mendapatkan momen bahagia itu.

          Cerita tadi bukanlah maksud dari kami menulis tulisan ini. Adalah satu fenomena yang kami merasa sangat ‘getol’ membuyarkan masa muda hari ini dari setiap lamunannya. Satu keadaan yang menyentakkan generasi muda, namun disaat yang sama mengembalikan mereka pada lamunan panjang, yang terkadang berakhir dengan sesegukan tangisan. Ada apa? Mengapa? Apa yang sebenarnya terjadi?

          Giatnya kegiatan media sosial menjadikan hampir sebagian besar generasi hari ini berada di dunia dengan kepalsuan, pura-pura dan menyimpan topeng yang sangat cerdas. Dunia yang luas terasa semakin sempit dan menyempitkan. Ruang-ruang hidup jadi semakin sesak dan terdorong untuk membosankan. Sosial-sosial yang dilakukan hanya sebatas kata dan ke kata. Di tengan riuhnya dunia media sosial hari ini, ada satu yang kami lihat sedang diberi ruang khusus untuk generasi muda Islam khususnya. Dari gerakan-gerakan ‘hijrah’, hijab hingga gerakan generasi anti pacaran. Semuanya adalah satu kesungguhan yang pantas untuk disyukuri. Satu usaha menuju sebuah kebaikan yang sangat banyak. Disaat yang sama, kami melihat ‘virus’ ini membalikkan semangat yang dahulu ingin dituju oleh sahabat-sahabat yang membuatnya.

          Pernah kami berdiskusi dengan beberapa sahabat perihal luasnya dakwah bernama ‘nikah muda’ di media sosial. Sebagian sahabat menanggapinya sangat baik, yang lain memberikan kritik-kritiknya. Yang ditampakkan adalah wanita-wanita bercadar bersama pasangannya atau wanita-wanita mulia berhijab santun, menanti jodohnya dalam penantian panjang. Dibalut dengan kata-kata yang sangat ‘mengajak’, dakwah ini mendapat perhatian khusus dari generasi ini dibanding prihal lain.

          Adalah kebaikan yang sangat besar, ketika seorang lelaki menyegerakan keinginannya untuk menyempurnakan agama selayaknya Rasulullah memberi tuntutan. Disanalah kehormatan dan juga diri terjaga. Juga sudah perintah Allah untuk menjaga diri dari kerusakan, baik pengaruh lingkungan atau juga sahabat. ‘Gerakan dakwah’ ini memiliki tujuan dalam pandangan kami menjauhkan generasi  ini dari sebuah fenomena yang buruk bernama pacaran yang biasanya sudah mulai menjamur di masa sekolah menengah pertama.
         
Ajakan sekaligus seruan ini semakin mendapat sambutan yang baik dengan ditambah pesatnya perfiliman yang menyuarakan hal ini. Akhirnya ‘baper-baperan’ pun merambat ke dalam jiwa-jiwa generasi muda yang seharusnya diisi dengan semangat ‘jihad’ bangsa dan agama. Alih-alih menjauhkan diri dari perihal ‘pacaran’, generasi ini kehilangan ruh membersamai masa-masa muda ini dalam langkah-langkah hebat sebuah perjuangan.

Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk memojokkan satu komunitas atau gerakan sahabat-sahabat atau usaha-usaha yang telah dibangun. Tulisan hanyalah sedikit coretan kami melihat keadaan generasi yang kami menjadi salah seorang di dalamnya. Bersambung..(yang nulis mau liburan sejenak)


Wallahu’alam, Madinah 22 Rabiul Akhir 1439 H

TULISAN AKAN DISEMPURNAKAN SAMPAI TIBA WAKTUNYA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Generasi Buta Sejarah

Sebagian manusia bertanya, mengapa harus belajar sejarah dan membacanya? mengapa harus melihat ke masa lampau dan meniliknya? Bukankah itu hanyalah catatan masa lampau yang benar atau salahnya tidak juga bisa dibuktikan? Untuk menjawab semua pertanyaan tadi, cukuplah dua ayat Al-Qur’an menjadi jawabannya. “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (Q.S. Al-An’am : 90) “Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (Q.S. Al-A’raf:176) Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah nya mengungkapkan faedah belajar sejarah yang merupakan mazhab keilmuan yang faedahnya sangat banyak dan sasarannya sangat mulia, karena dengan sejarah kita mampu mengenali akhlak umat-umat terdahulu, jejak hidup para nabi, dan tata kelola pemerintahan serta dasar kebijakan politik para raja, dengan tujuan agar kita mampu mengikuti peri kehidupan mereka hingga kita mampu mengambil faedah untuk kepentingan dunia dan agama. A...

KESUNGGUHAN YANG HEBAT

Kesungguhan adalah harga mutlak dalam menuntut ilmu. Karena tanpanya, ilmu mustahil akan didapat. Perihal ini, Imam Nawawi berpesan, “Termasuk adab pelajar yang amat ditekankan ialah gemar dan tekun menuntut ilmu pada setiap waktu yang dapat dimanfaatkannya dan tidak puas dengan yang sedikit sedangkan dia mendapatkan yang banyak. Janganlah dia memaksa dirinya melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya supaya tidak jemu dan hilang apa yang diperolehnya. Ini tentu berbeda sesuai dengan perbedaan manusia dan keadaan mereka. Jika tiba di majlis guru dan tidak menemukannya, dia mesti menunggu dan tetap tinggal di pintunya. Janganlah meninggalkan tugasnya, kecuali jika dia takut gurunya tidak menyukai hal itu dengan mengetahui bahawa gurunya mengajar dalam waktu tertentu dan tidak mengajar ketika lainnya.” ( At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran, hal.68, dar al-minhaj) Dan diantara bukti kesungguhan adalah dengan banyak bersabar dalam menuntut ilmu. Hal ini telah disinggung ...

DIMANA KAMI DARI MEREKA?

Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Malik berdiri di tenagh teriknya panas matahari hanya untuk Menunggu gurunya Nafi’ keluar dan mengajarkannya satu Hadist Rasulullah. Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Syafi’I menulis di atas tulang-belulang Karena tidak sanggup membeli kertas. Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Ahmad berjalan kaki dari Baghdad menyusuri negeri-negeri asing Untuk berguru pada ahli hadist dan ulama-ulama dunia. Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Bukhari berjalan berpuluh-puluh kilo untuk mencari hadist dan mengumpulkannya. Kemudian ia tawakkalkan dengan memanjatkan pinta di shalat dua raka’at pada setiap Menuliskan hadist Rasulullah di ‘shahihnya’ Ya Rabb.. Dimana kami dari mereka? Imam Muslim an Nisaburi menghabiskan malamnya untuk mencari hadist yang ia tidak ketahui. Hingga ia lupa menuangkan air ke tenggorongkannya setelah ia menelan kurma di saat makan malamnya. Ya Rabb.. Dimana ka...