Langsung ke konten utama

Menebak Peran Kita

Ada seorang laki-laki mengatakan; 'Wahai Rasulullah, apakah penghuni surga dan penghuni neraka telah diketahui? ' 'Iya' jawab Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Orang tadi bertanya lagi; 'lantas apa gunanya orang beramal? ' Nabi menjawab; "setiap orang mengamalkan sesuai dengan kehendak penciptannya, -atau- kepada yang dimudahkan baginya." (H.R Bukhari)

Hakikat penciptaan yang sering terlupakan, membawa kita pada langkah-langkah salah dan keluar dari garis perintah. Semuanya memberi dampak, kecil dan besarnya pada diri, masyarakat atau sebuah bangsa.
Sebuah masyarakat tanpa tantanan yang baik, akan merusak pada setiap kegiatan manusia yang hidup di dalamnya. Manusia sendiri pun tak kalah pentingnya sebagai unsur utama dalam membentuk satu kumpulan yang baik.
Membentuk manusia bukanlah semudah membangun bertingkat-tingkat bangunan pencakar langit. Ia adalah susunan hebat dari daging, akal dan hati yang beragam bentuk dan karakternya. Menyatukannya dalam satu langkah adalah perkara yang hampir mustahil. Namun semuanya membawa satu hakikat, yang padanya semua kembali; si miskin, si kaya, si pandai atau terbelakang. Kesemuanya menginginkan dan jiwanya selalu merindu kebaikan.
Masyarakat yang baik haruslah diisi dengan insan manusia yang juga baik, akhlaknya, sosial, agama, ekonominya. Sebab semuanya mempunyai keterkaitan.
Menebak peran kita untuk membangun masyarakat yang baik tidak lah sulit. Memahami setiap tanggungjawab dan menginsafinya adalah kuncinya. Seorang saat terdorong untuk merusak sebuah alat permainan di sebuah taman umum, seharusnya berfikir jika aku rusak alat permainan ini, anak anak di lingkungan ini akan mencari tempat bermain lain, yang mungkin saja berbahaya bagi mereka, seperti warnet dan tempat bermain game game online.
Menebak peran kita adalah hal yang mudah, bagi mereka yang mau berfikir akan apa yang ia punya dan bisa ia berikan untuk kebaikan dirinya dan juga sekitarnya. Menebak peran kita adalah menyadari kewajiban disamping menunut hak pribadi.
Seorang terpelajar, mahasiswa perguruan tinggi, saat ia kembali ke kampung halamannya; dilihatnya anak-anak sangat membutuhkan pendidikan yang layak, hendaknya menggerakkan dirinya berbuat untuk mengajar dan memberika pengajaran untuk mereka. Diam dan takut melangkah selalu menjadi hambatan kita menebak peran kita.
Menebak peran kita, membuka langkah-langkah kebaikan, membuka pintu rahmat dan pertolongan Allah. "Allah akan menolong hamba selama hamba menolong saudaranya" (HR Tirmidzi)

Wallahu'alam

(Madinah, 05 Jumadil Awwal 1439 H)

Komentar