“Mereka
itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah
petunjuk mereka.” (Q.S. Al-An’am:90)
“
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang
yang mempunyai akal.” (Q.S. Yusuf )
Sejarah tidak datang dengan hal yang
baru. Ia hanya akan terus berulang dengan pemain peran, tempat dan waktu yang
berbeda. Ia memberi kesempatan siapapun yang berjalan dengan 24 jam waktu yang
disediakan Allah. Sejarah begitu mahal dan agung. Ia bukan hanya catatan dari
masa lampau, bukanlah ingatan kenangan-kenangan belaka. Sejarah adalah
pelajaran, ibrah untuk mereka yang mau berfikir. Ia adalah lembaran hidup yang
penuh kisah untuk diambil jadi panduan berjalan. Ibnu Khaldun menyebutnya
tentara-tentara Allah.
Al-Qur’an mengisyaratkan banyak
titik-titik sejarah untuk diilhami oleh akal yang mau berfikir. Dari kisah para
nabi, rasul, para raja yang angkuh dan yang bijak. Diceritakan juga manusia
biasa dengan keimanan yang hebat bak baja. Wanita-wanita dengan segala watak
dan posisinya dalam kehidupan juga tak luput diberitakan Al-Qur’an untuk
diteladani mereka yang berbuat kebaikan dan dijauhi dan tidak diikuti oleh
generasi setelah Al-Qur’an di turunkan. Sejarah mengambil porsi yang besar di
dalam diri-diri yang mau menjadi lebih baik di masa yang akan datang
Dr. Muhammad as-Shalabi menyebut
bahwa Sesungguhnya buah hakiki dari mempelajari sejarah adalah mengambil
pelajaran dan menguasai sunnah-sunnah Allah. Di antara pelajaran-pelajaran
tersebut adalah, i. Pentingnya
inisiatif dalam gerakan kebangkitan ; ii. Pentingnya dorongan agama dalam
memberikan semangat kepada rakyat ; iii. Pentingnya persatuan dalam menghadapi
bahaya-bahaya dari dalam dan luar.[1]
Pada tahun 532 H di sebuah daerah
bernama Tikri lahir seorang anak dari sebuah keluarga mulia, mulia asalnya dari
nasab kaum Kurdi. Disebutkan dalam wafayat al a’yan bahwa sang ayah
merasa sial dengan lahir sang anak suci tadi dan ia berniat untuk membunuhnya
hingga kemudian salah seorang dari pengikut sang ayah memberikan sarannya untuk
tidak melaksanakan keinginannya seraya berkata bahwa ia hanyalah seorang bayi
tak berdosa lahir da nada ke dunia ini. Ia juga berdoa agar kelak anak ini akan
menjadi seorang raja yang agung, memiliki marwah dan kedudukan yang tinggi.
Langkah mulia sang anak kecil
kemudian berlanjut pada sesosok panglima Mousul yang hebat, Imaduddin Zanki
yang kelak di tangannya keluarga Ayubiyah berkembang. Di Damaskus menjadi awal
Shalahuddin mulai belajar ilmu agama dan kemahiran bertarung, berburu dan
memanah dan segala latihan seorang pahlwan. Dari Nuruddin Mahmud, sang guru ia
belajar dan menghidupkan mimpi-mimpi hebatnya. Sang guru adalah sekian dari
sosok yang bermimpi akan menaklukan Baitul Maqdis hingga kemudian mimpi itu
diteruskan perjuangannya oleh sang murid, Shalahuddin Al Ayubi.
Pada akhir tahun 488 H/1095 M Paus
Urbanus II memprolamirkan gerakan perang salib untuk menuju Baitul Maqdis dan
menyerukan agar mengembalikan tanah suci itu ke tangan mereka. Pasukan salib
dengan kekuatan dan jumlah yang banyak telah menjadi momok menakutkan sekaligus
menjadikan kekuatan-kekuatan umat Muslim terlihat sangat rapuh.
Paus menjajikan kepada pasukan yang
ikut serta pada perang salib I akan diangkat hukumannya dari dosa-dosa dan
penghapusan kewajiban, sertab janji akan melindungi keluarga yang ditinggalkan
selama mereka pergi. Ia juga menyeru kepada pengikutnya, “Pergilah dan porak-porandakan
orang-orang Barbar itu dan selamatkan Baitul Maqdis dari orang-orang kafir itu
dan kembalikan kepada kalian. Sesungguhnya dalam Taurat dikatan ‘Baitul Maqdis
itu mengalirkan susu dan madu’.”
Sebab kelalaian yang menjangkiti kaum
Muslimin saat itu, membuat pasukan ini dengan gerakannya menguasai banyak
wilayah kekuasaan umat Islam serta merebut Baitul Maqdis. Ibnul Jauzi
mengisahkan kepada kita peristiwa yang sangat menyakitkan ini, “Kalaulah bukan
karena terjadi pembantaian besar-besaran terhadap umat Islam di Baitul Maqdis
dan informasinya menyebar, maka tentunya mereka masih lelap dalam tidur. Tidak
banyak Negara-negara Islam ketika itu yang memiliki kesadaran hingga harus
membayar mahal ketololan mereka ketika pasukan Tatar menyerang hingga
menempatkannya sebagai bagian kisah masa lalu (karena telah hancur). Tiada lagi
gelar-gelar menggelora dan menipu yang memiliki pengertian seperti Mustarsyid
Billah. Muqtafi Billah, Mustanjid Billah, dan Nashir Lidinillah, serta lainnya.
Sesungguhnya asumsi semata tidak memberikan kebenaran apa pun, apalagi
kebohongan yang nyata? Apabila umat Islam tidak mempercayai Allah, maka tiada
yang perlu disalahkan kecuali diri mereka sendiri.” (Ibnul Jauzi, Humum
Da’iyah)
Hingga tiba hari itu, Shalahuddin
telah berada di barisan terdepan membawa kekuatan pasukan umat Muslim untuk
menorehkan namanya sekaligus menampakkan izzah Islam yang bertahun-tahun
dihinakan oleh pasukan Salib. Dihadapi setiap pertempuran dengan gagah sampai
kemudian mereka sampai di Baitul Maqdis. Diberikan perintah mendirikan sebuah
kemah dan tersungkur ia dalam syukur-syukur kepada Rabb yang kuasa atas nikmat
ini. Saat kekuatan telah berada di tangannya, ia tetap memperlakukan raja-raja
pasukan dengan santun dan menjadikan tahanan perang memilih untuk masuk Islam
atau akan dibunuh. Sebagiannya di jual sebagai budak. Perang Hitthin menjadi
titik tolak pasukan Muslimin untuk memegang kendali kekuatan pasukan yang sejak
87 tahun lamanya sukar ditaklukan. Kembali hari itu Baitul Maqdis yang mulia ke
tangan seorang panglima hebat, Shalahuddin al Ayyubi dan pangkuan umat Islam.
Hari ini, Palestina dan Baitul Maqdis
terus menyeru akan kesusahan yang ia terima. Sebab sejarah kembali ada pada
mereka dengan keadaan yang teramat menyusahkan hati. Pelbagai peristiwa dari
abad ini memberikan gambaran penting bahwa keadaan umat Islam tidak berbeda
dengan keadaannya sebelum pasukan Salib menyerang.
Pada saat itu, kota-kota di Syam
terpecah-belah, masing-masing kota dikuasai seorang amir atau walikota, dimana
satu sama saling mengintai dan menjatuhkan. Perselisihan aliran dan politik
antara Daulah Fathimiyah dan Dinasti Saljuk memuncak tatkala pasukan salib dari
berbagai daerah membentuk aliansi dan mulai bergerak di sekitar wilayah Islam.
Baik Dinasti Saljuk-Romawi maumpun
Daulah Fathimiyah, masing-masing melihat dan berharap, kedatangan rombongan
tentara salib pertama akan membantu mewujudkan misi mereka dalam menumpas musuh
atau memangkas kekuatannya. Akibatnya, rombongan pasukan salib Eropa mudah
bergerak dan leluasa memasuki wilayah
Syam, sampai mereka menduduki Baitul Maqdis dan wilayah bagian pantai Syam
secara keseluruhan.[2]
Sudah seharusnya kembali kita membuka
lembaran lama itu dan membacanya dengan teliti seraya mencatat apa yang bisa
kita ambil sebagai ibrah dan pelajaran. Keadaan yang sangat sulit digambarkan,
carut marut kekuasaan, lingkungan masyarakat yang brutal dan jauh agama, saling
sikut dan menjatuhkan, aliran-aliraan keyakinan yang menyimpang. Dengan semua
ini, cita-cita kita lambungkan setinggi mungkin untuk mengembalikan Baitul
Maqdis. Nampaknya sangat mustahil itu akan tercapai.
Dari Shalahuddin kita mengutip setiap
tetesan kemuliaan. Beberapa sifat yang membangun sosok dan pribadi hebat
penakluk Baitul Maqdis ini:
Taqwa
dan Ibadah
Tak diragukan ini menjadi hal yang
utama untuk membentuk pribadi-pribadi hebat dan menghebatkan. Taqwa adalah
perisai sekaligu tameng untuk setiap keadaan. Kesemua itu tampak pada
kesungguhan Shalahuddin menanamkan aqidah yang kuat di dalam dirinya. Tak juga
ketinggalan, anak-anak keturunannya diajarkan hal ini dan dihafalkan oleh
mereka dengan sangat baik.
Adapun perihal Shalat, ia selalu melazimkan
berjamaah dan juga melaksanakan shalat-shalat rawatib dan mendirikan shalat
malam hingga kemudian saat di pembaringan sakitnya, ia tetap melaksanakan
shalat. Seorang pemimpin yang hebat dan pribadi yang agung, akan patuh betul
menghadap Rabb dalam shalat-shalatnya. Disanalah ia mendapatkan ketenangan dan
mengadukan setiap masalah dan keluhan. Mereka hebat dan agung, sebab mereka
mengagungkan Tuhannya.
Shalahuddin juga merupakan peribadi
yang suka mendengar bacaan Al-Qur’an hingga ia sendiri yang memilih para
imam-imam shalat. Diceritakan bahwa ia mendengar seorang anak kecil yang bagus
bacaannya saat membaca Al-Qur’an. Bacaan yang bagus itu membuatnya kagum dan
menghadiahkan sang anak bagian dari makanan khusus yang ia makan dan juga
memberikan satu lahan pertanian untuk ayah sang anak. Ialah sosok yang hatinya
teramat lembut hingga selalu tumpah air matanya saat mendengar bacaan Al-Qur’an
Sebagaimana ia gemar mendengarkan
bacaan Al-Qur’an, ia juga sangat senang mendengar Hadist-hadist Rasulullah.
Jika ia dengar ada seorang syaikh yang memiliki riwayat suatu hadist, ia akan
datang padanya atau didatangkan kepadanya. Ia akan mendengarkannya dan juga
diajaknya para raja-raja dan orang-orang khususnya untuk ikut mendengarkannya.
Ia juga memerintahkan kepada rakyatnya untuk mendengarkan hadist Rasulullah.
Saat-saat sendirian, ia akan meminta didatangkan buku-buku hadist untuk ia
baca.[3]
Semua sifat taqwa berkumpul pada
pribadi Shalahuddin untuk membentuk satu jiwa yang sangat kokoh. Dengannya ia
menghidupkan jihad dirinya sebelum ia menunggangi kudanya, memegang pedang
berlari menuju medan pertempuran.
“Jika
kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak
mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa
yang mereka kerjakan.” (Q.S. Al-Imran:120)
Dengannya ketaqwaan itu, lahir kebaikan
dan sifat-sifat mulia lain menyertainya, menjadikan sosok ini semakin pantas
menjadi makhluk pilihan. diantaranya adalah sifat adil yang mutlak wajib
dimiliki seorang pemimpin. Sifat pemberani juga sangat dibutuhkan dan harus
mengalir bersama darah di dalam tubuh. Pengecut hanya akan menjadikan pribadi
menjadi semakin hina. Berani lah yang menggerakkan langkah untuk tetap tegar di
bawah guyuran hujan, tetap tegak di bawah terik matahari dan tidak goyah
menghadap musuh.
Belajar dari Shalahuddin dan
mengambil ibrah dari penaklukan Baitul Maqdis adalah keharusan untuk tetap
menegakkan kemuliaan agama yang kita selalu impikan. Semua keinginan untuk
mengembalikan Baitul Maqdis adalah tujuan mulia yang ingin dicapai semisal
dahulu Shalahuddin dan gurunya Nuruddin menginginkannya. Namun mereka tidak
hadir di medan perang dengan mantra ‘abra kadabra’ atau ‘sim
salabim’. Mereka sudah menapaki setiap tangga dan mengambil sebab.
Dari Shalahuddin kita belajar bahwa
jihad utama yang harus dilakukan sebelum menyerang musuh adalah menghancurkan
musuh di dalam diri masing-masing. Sebab disana ada benteng yang harus
dihancurkan sebelum menghancurkan benteng musuh yang ada di ujung jalan sana. Dari
masyarakat dan keluarga yang shalih, kuat beragama, lahir sosok Shalahuddin.
Perang Salib mengajarkan bahwa perpecahan
itu melemahkan dan hanya akan berujung tangis penyesalan. Ia mengajarkan bahwa
keinginan untuk saling menjatuhkan hanya akan menjauhkan rahmat Allah untuk
memberikan kepada kita kemenangan.
“Dan
taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang
menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah.
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S.Al-Anfal:46)
Semoga
Allah mengembalikan Baitul Maqdis dan Palestina ke pangkuan umat Islam. Wallahu’alam
bis shawab
(Ibnu
Ahmad Hrp)
[1]
Dr. Muhammad As-Shalabi, Daulah as-Salajikah wa buruz masru’ islamii lii
muqawamah at-taghalghul al batini wal gazwu as-salibi
[2] Tarikhul Fathimiyyah fii syimali
ifriqiyaa waa mishraa waa biladi as-syam, Dr. Muhammad Suhail at-Tuqqusy
[3]
Dr. Muhammad Ali As Shalabi, Salahuddin al-Ayubi wa juhuduhu ‘alal qadhai
ala ad-daulah al fathimiyyah waa tahriru baitil maqdis

Komentar
Posting Komentar