Ka’bah
dan Iman
(Oleh : Ibnu Ahmad Harahap)
Sangat
mendalam pesan yang ditinggalkan oleh Fudhail ibn Iyadh radiyallahu’anhu dalam
salah satu perkataannya, “Betapa banyak yang berthawaf di rumah ini
(Masjidil Haram) akan tetapi selain mereka lebih baik darinya dan lebih banyak
mendapat ganjaran dari mereka yang berthawaf.” (Imam Nawawi, Bustanul
Arifin diriwayatkan dari Imam Syafi’I rahimahumallah)
Ka’bah
yang menjadi syiar dari kegiatan umrah dan haji, juga menjadi kiblat umat
muslim di seluruh dunia. Lima waktu dalam sehari semalam umat Muslim menghadap
ke arahnya, mereka yang ada di pedalaman hutan ataupun tinggal di perkampungan
yang asri atau juga mereka yang hidup di tengah keramaian kota.
Dewasa
ini di tengah berkembangannya tekhnologi, muncul satu dampak buruk bagi umat
Muslim, terkhusus pada mereka yang pergi beribadah umrah atau menunaikan haji
ke tanah suci. Sebab dengan tekhnologi yang sudah sangat canggih dan mudah,
banyak yang disibukkan dengan amalan-amalan yang seharusnya dikerjakan di tanah
suci. Dengan kamera terbaiknya, dibuatlah bermodel gaya saat sudah sampai di
hadapan Ka’bah. Tidak lupa, foto itu akan dibagikan di media sosial sebagai
sebuah kebanggan.
Sebuah pemandangan yang
sangat menyedihkan saat semua peristiwa itu kita lihat saat berada di
tengah-tengah umat Muslim yang sedang Thawaf di Ka’bah. Disaat seharusnya kita bertadarru’, bersimpuh
di rumah Allah yang suci dengan semua permintaan, disibukkan dengan amalan yang
sia-sia bahkan menjerumus kepada riya’ dan takabbur. Betapa banyak yang sudah
tercampuri niat untuk datang ke rumah Allah ini.
Tulisan ini juga ingin
kami tunjukkan pada diri terlebih dahulu sebagai nasehat pengingat diri bahwa
Thawaf mengelilingi Ka’bah berkali-kali bukanlah penjamin bahwa imanmu sudah
benar dan derajatmu di atas mereka yang belum pernah sama sekali menginjakkan
kakinya di tanah suci. Betapa banyak yang berthawaf mengeliling Ka’bah ini
namun hatinya masih saja bermaksiat kepada Allah. Bahkan ibadah Haji dan
Umrahnya tidak menjadi jaminan bahwa ibadahnya semakin bagus dan meningkat.
Betapa disana, di tengah
pedalaman kampung yang mungkin belum tersentuh listrik, seorang laki-laki
terbangun di tengah malam, bersimpuh dihadapan Allah meminta ampunan dan semua
kebaikan di dalam hidupnya. Belum pernah ia melihat Ka’bah apalagi berthawaf di
sampingnya. Namun, do’anya menggetarkan ‘Arsy Allah dan didengar oleh para
malaikat. Ia sudah berkeinginan untuk dapat menunaikan ibadah haji, berthawaf
di rumah Allah itu.
Namun sebab keterbatasan kemampuan, membuatnya hanya bisa
terus berusaha sembari meminta kepada Allah disampaikan keinginannya. Sehari-hari
ia juga berpuasa sunnah Senin dan Kamis. Kesehariannya hanya di sepetak sawah
yang ia punya. Jika datang waktu maghrib, ia mengajar anak-anak kampung dengan
penerangan seadanya membaca Al-Qur’an. Bisa jadi ia lebih mulia di hadapan
Allah dari mereka yang berpuluh-puluh kali Thawaf di Ka’bah. Wallahu’alam
Komentar
Posting Komentar